Monday, 16 Zulhijjah 1442 / 26 July 2021

Monday, 16 Zulhijjah 1442 / 26 July 2021

Illuminati Masjid: Terkenang Ahmad Nu'man dan Mimar Sinan

Selasa 04 Jun 2019 06:03 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Masjid Gedhe Kauman.

Minar Sinan dan rancangan masjidnya.

Foto:
Semua arsitek masjid itu sarat makna seperti karya Ahmad Nukman dan Mimar Si

Lalu bagaimana simbol angka dan bangunan di dalam arsitek masjid di Indonesia. Untuk menjawab soal ini ada jawaban sederhana yakni bercermin dari gaya bangunan masjid di Jawa (Jogjakarta) dan Aceh.

Dalam hal ini patut diingat soal sosok arsitektur bangunan Masjid Besar Kauman di samping kraton Yogyakarta. Semua tahu masjid ini berasitektur unik. Atapnya berbentuk joglo bertingkat tiga. Untuk menetapkan lokasi masjid juga tak sembarangan. Sebab, ternyata mengacu pada tata ruang dengan mengacu ala Kesultanan Ottoman Turki. Alhasil masjid itu selalu dibagian kanan, penjara di bagian kiri. Jadi semuanya terkonsep dan ada acuan atau alasannya mengapa ini begitu mengapa itu di sana.

Ingat, di Kerajaan Mataram Jogjakarta waktu itu jangan pula pandang sepele soal simbol dan bentuk bangunan masjd. Kala itu di sana, dalam soal bangunan atau bentuk masjid pada zaman Kesultanan Mataram tersebut diatur secara ketat, mana masjid yang boleh beratap joglo sampai tingkat tiga, dan mana saja masjid yang hanya boleh pakai joglo dua tingkat, hingga satu tingkat.

Yang jelas Masjid Besar Kauman harus bertingkat tiga karena masjid kerajaan. Lambang bertingkat tiga juga melambangkan tingkatan atau jumlah penghayatan ajaran agama sebagai sosok kerajaan Islam, yakni Islam, Iman, Ikhsan. Dalam hal ini bisa dibandingkan dengan Masjid Pathok Nagari di kawasan Ploso Kuning,  dekat perbatasan Jogjakarta dan Sleman. Arsitektur masjid Jawa jela semua sarat makna, simbol dan fungsi tak bisa dipandang remeh.

photo
Masjid Pathok Nagari Ploso Kuning, Yogyakarta.
Bahkan, tak hanya itu pihak Kesultanan waktu juga itu mengatur cara berkumandangnya azan agar sambung-menyambung di setiap masjid. Masjid Besar Kauman harus menjadi masjid paling awal mengumandangkan adzan, baru disusul masjid-masjid lainnya. Azan di masjid besar adalah ‘tetenger’ (tanda telah tibanya) waktu menunaikan shalat.

Lokasi masjid juga diatur sebagai suatu yang sakral ‘Pathok Nagari’ (Tanda Batas Negara) yang ada setiap penjuru batas kerajaan. Zaman Kesultanan Mataram saat itu memang oleh Raja hanya masjid yang boleh berdiri wilayah kerajaannya (Vorstenlanden). Di luar itu tak boleh berdiri. Gereja misalnya di Jawa berdiri usai kekalahan Perang Diponegoro pada 1830, yakni ketika Mataram total takluk atau resmi dijajah negara Belanda. Sebelum itu ketika masih dijajah kongsi dagang VOC, perusahaaan dagang Belanda ini melarang mengikutertakan  penyebaran misi penyebaran agama Kristen di dalam ambisi kekuasaan dan bisnisnya.

Sama dengan Kesultanan Mataram Yogyakarta, cara pendirian bangunan masjid di Aceh juga begitu serius. Ini terlihat pada gaya arsitektur masjid Baiturrahman, Banda Aceh. Arsitekturnya memang bergaya Turki. Namun, untuk jumlah kubah ternyata penuh hitungan penuh makna.

‘’Masjid Raya Baiturrahman itu lambang eksistensi dan kosmpolitanisme bangsa Aceh. Semua pakai konsep. Bahkan,  ketika dahulu Gubernur Aceh, Ibrahim Hasan, memperluas masjid ini juga tidak main-main.  Dia menambah kubah masjid itu menjadi lima dari tiga buah. Yang satu kubah khusus di bagian depan masjid. Yang satu dibagian depan itu melambangkan persatuan Indonesia, dan yang kubah lain hingga berjumlah lima itu melambangkan rukun Islam dan Pancasila. Itu filosofi masjid Baiturrahman yang banyak orang tak paham. Jadi tak ada yang kebetulan. Semua ada maknanya,’’ kata wartawan senior asal Aceh, Tgk Fahmi Mada.

photo
Pelajar melintas di depan Masjid Raya Baiturrahman saat mengikuti pawai keliling kota di Banda Aceh, Aceh, Selasa (30/4/2019).
Yang paling jelas lagi adalah soal arsitektur Masjid di Turki. Di sana ada ada arsitek legendaris yang merupakan anak seorang tukang batu asal Armenia, Mimar Sinan. Dialah peletak bangunan masjid megah dan berasitektur indah yang menghiasai wajah kota Istanbul. Dia melaksanakan perintah pendirian masjid oleh para Sultan Ottoman. Titarnya kepada Sinan,'' Dirikanlah masjid yang tak hanya megah, tapi menjadi penanda wilayah, keagungan Allah, sekaligus juga dapat menjadi tempat perlindungan rakyat.''

Atas titah sang Sultan Suleiman, Selim II, hingga Murad III, Sinan berhasil merancang begitu banyak masjid indah dan 300 buah bangunan legendaris lainnya. Dalam hal membangun masjid misalnya, rancang masjid Sinan hingga kini tetap menajubkan dan menjadi pemandangan teramat sedap ketika mata menikmatinya dari Selat Bhosporus yang memisahkan benua Asia dan Eropa itu.

Di sana kesan masjid yang dirancang dengan teliti terjejak. Obsesi Sinan luar biasa. Jumlah menara, tinggi bangunan menara tak dibuat sembarangan. Semua ada hitungan dan konsepnya. Dia berharap masjid harus mampu menjadi tempat perlindungan. Kaum Muslim bisa beribadah dengan tenang meski datang waktu musim panas yang terik dan juga mengalirkan udara panas ketika musim dingin mencekik. Sinan membuat masjid menjadi tempat perlindungan di kala terjadi perang. Nah, dalam hal ini Sinan membuat masjid tak sebatas tempat shalat saja, tapi merupakan pesan keagungan sang pencipta yang melintasi zaman.

photo
Penulis menikmati keindahan Masjid Kesultanan Turki karya arsitek Minar Sinan dari selat Bhosporus, Istanbul.
Hal yang sama juga terjadi di masjid merah (Masjid Badshahi di Lahore, Pakistan). Masjid yang dibangun dengan batu bata merah dan bergaya arsitektur persis dengan Taj Mahal yang ada di Agra, India, adalah melambangkan keperkasaan kerajaan Mughal. Dalamnya penuh ornamen kaligrafi rumit ala Persia. Bangunannya di rancang begitu kokoh serta menyatu dalam benteng. Bahkan, saking hebatnya kualitas audio masjid ini luar biasa. Meski tanpa menggunakan pengeras suara, suara khotbah terdengar merata ke seluruh penjuru masjid yang luas. Pilar yang jumlahnya 99 buah itu ternyata menjadi alat penyebar dan pelantang suara.

photo
Masjid merah (Masjid Badshahi) Lahore yang berasitektur indah dan megah.
Alhasil, jangan main-main soal ‘game pikiran’ soal bangunan masjid. Apalagi itu seni islam atau arsitektur masjid. Ingat lambang segitiga yang kini menjadi kontroversi memang bisa diartikan macam-macam, seperti lambang ilimutie hingga lokasi kawasan segitiga Bermuda yang misterius itu.

Apalagi semua tahu, tak hanya politik, apa pun di dunia ini tercipta dengan alasan alias tidak kebetulan! Semua ada sebabnya, semua ada argumentasinya. Tidak ada yang bisa seperti Allah yang sekedar berkata 'Kun Fayakun' (jadilah maka jadilah).

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA