Friday, 26 Syawwal 1443 / 27 May 2022

Jibril Mengabarkan Perempuan Ini Masuk Surga

Senin 03 Jun 2019 05:00 WIB

Red: Elba Damhuri

Ikhwanul Kiram Mashuri

Jamaah Asia Selatan berdoa selepas mengunjungi bagian berpagar di Pekuburan Ma'la.

Foto:
Siapa perempuan yang Malaikat Jibril kabarkan masuk surga itu?

Demi mengalami peristiwa itu, Muhammad pun berkeringat dingin. Ia lantas bergegas menemui istrinya Khadijah. ‘’Temani aku, temani aku,’’ kata Muhammad.

Khadijah pun menemaninya dan memeluknya dengan erat dan lembut. Kemudian ia mendengarkan apa yang dikatakan Muhammad. ‘’Sebarkanlah (kabar gembira ini) wahai sepupu, dan berketapan hatilah. Demi Allah yang jiwa Khadijah di tanganNya, saya berharap inilah nabi umat ini yang (selama ini) ditunggu-tunggu,’’ kata Khadijah menenangkannya. Sejak itu, suami-istri itu memulai babak baru perjuangan setelah Muhammad menerima risalah kerasulan dari Allah SWT yang disampaikan lewat Jibril.

Khadijah merupakan orang pertama yang percaya pada kerasulan Muhammad SAW. Ia terus mendukungnya. Semua yang ia miliki — pikiran, tenaga, hati, dan harta benda — dipersembahkan untuk perjuangan Nabi Muhammad. Bagi Rasulullah SAW, Khadijah adalah segalanya — tempat mengadu, teman berjuang, dan belajah jiwa dalam suka dan duka.

Khadijah adalah pendukung utama Rasulullah SAW selama tahun-tahun penderitaan ketika dimusuhi kaum Quraisy. Ia tinggalkan rumahnya yang luas untuk tinggal bersama suaminya di sudut kediaman pamannya, Abu Thalib.

Ia rela menderita pada waktu usianya semakin menua dan fisiknya semakin lemah. Apalagi setelah dua anak laki-lakinya yang diharapkan bisa menambah kebahagiaan suaminya meninggal dunia.

Dr Farouk Hamadah dalam bukunya Ayyam fi hayati al Rasul mengatakan, 25 tahun telah berlalu sejak Nabi Muhammad dan Khadijah menikah, 25 tahun penuh dengan kehangatan dan cinta. Hal ini mempunyai pengaruh besar pada kehibupan Nabi Muhammad. Apalagi Khadijah merupakan ibu dari anak-anak Muhammad. Allah SWT berfirman, ‘’Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.’’ (Adh Dhuha: 8).

Bagi Nabi Muhammad SAW, Khadijah bukan sekadar istri, tapi juga teman berjuang, ibu bagi mukminin dan mukminat, hingga Allah SWT ‘memanggilnya’. Khadijah wafat sebelum hijrah. Tahun kematiannya disebut sebagai tahun kesedihan, ‘aam al huzni. Melihat kesedihan Rasulullah SAW, Allah pun memerintahkan Jibril untuk menghibur beliau. ‘’Ya Muhammad, Allah telah memberi kabar gembira bahwa Khadijah akan mendiami rumah di surga…’’ ujar Jibril.

Khadijah wafat pada bulan Ramadhan tahun kesepuluh kenabian, pada usia 65 tahun. Nabi Muhammad pada waktu itu berumur 50 tahun. Kematiannya telah meninggalkan kesedian yang mendalam di hati Rasulullah, seorang istri yang 25 tahun telah menemaninya dalam suka dan duka.

Selamat menjalankan puasa Ramadhan. Lebaran sebentar lagi, mohon maaf lahir dan batin.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA