Cara Anak Muda Memaknai Idul Fitri

Rep: Santi Sopia/ Red: Yudha Manggala P Putra

 Rabu 05 Jun 2019 01:45 WIB

Idul Fitri Ilustrasi Foto: Republika/Wihdan Idul Fitri Ilustrasi

Idul Fitri bukan soal busana baru.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alga Arsa (22 tahun) terbiasa membeli barang baru saat Hari Raya Idul Fitri. Mahasiswa di salah satu universitas di Depok, Jawa Barat, ini merasa ada yang kurang jika uang yang dia peroleh saat Lebaran tidak digunakan membeli barang yang disuka.

"Sudah kebiasaan jadi pasti ada yang kurang kalau enggak beli barang baru, secara Alhamdulillah ada uangnya, kalau enggak ada, apa yang mau dibeli," kata dia kepada Republika, baru-baru ini.

Dia membeli barang kesukaan menjelang Lebaran dan pergi ke pusat perbelanjaan bersama ibu dan kakak perempuannya. Tidak harus banyak, yang penting harus ada yang baru untuk dipakai saat hari raya.

Alga tidak mengetahui apakah ada anjuran dalam Islam soal membeli barang baru saat Idul Fitri. "Setahu saya, yang penting enggak dilarang," kata dia.

Sementara itu, terkait ibadah, dia mengaku masih belum bisa sempurna. Shalat lima waktu, puasa sunah, membaca Alquran, sedekah, dan lainnya masih banyak yang harus diperbaiki.

Dian Nurrahman (18 tahun) memaknai Idul Fitri sebagai hari kemenangan dan akhir dari puasa selama satu bulan penuh. Menurut siswa di salah satu sekolah menengah kejuruan swasta di Kota Bogor itu, selama Ramadhan banyak dianjurkan melakukan amalan-amalan.

Menurut dia, bukan berarti seusai Ramadhan Muslim melakukan ibadah alakadarnya. Setelah Idul Fitri, ibadah perlu lebih baik. Namun, Dian merasa belum konsisten beribadah.

Firdza Nurfauziah (19 tahun) asal Tasikmalaya ogah menjadikan Idul Fitri sebagai ajang pamer. "Di daerah saya tuh misal pakai perhiasan emas dipamer-pamerin, buat apa, bela-belain minjam (uang) ke toko emas, semampunya aja, yang dibawa mati kan pahala ibadah ya," kata Firdza.

Tidak Berlebihan
Menurut dai muda Muhammadiyah, Ustaz Dzikron, anak muda harus tahu ilmu memaknai Idul Fitri. Dengan ilmu pengetahuan, anak muda dapat memaknai 1 Syawal sebagai peningkatan. Artinya, semangat untuk menjalani ibadah.

Kemudian, harus dimaknai sebagai perubahan, kesucian, kembali kepada suci, harus sudah dalam semangat yang baru lagi, kata Dzikron. Idul Fitri bisa menjadi momen Muslim berubah menuju kebaikan.

Ustaz Dzikron mengingatkan, inti dari Idul Fitri bukan busana baru, melainkan tingkat ketakwaan yang mestinya bertambah.

Ada satu pepatah, ungkapan yang menurut Muslim penting. Idul Fitri dimaknai kebaruan, tapi bukan hal yang simbolis, seperti pakaian, rumah baru, melainkan lebih tinggi dari itu, yakni takwa, semangat beribadah, dan berkarya. "Pentingnya memaknai Id itu di situ," ujarnya.

Dia berpendapat, membeli barang baru sah-sah saja. Sebab, dalam hadis disebutkan ketika shalat Id hendaknya menggunakan wangi-wangian, pakaian bersih, dan terbaik.

Namun, yang terpenting tidak berlebihan. Adapun yang harus dikritisi adalah ketika Idul Fitri menjadi ajang pamer barang baru. Terlebih di era media sosial, memamerkan sesuatu bak seperti sudah keniscayaan.

Islam melarang umatnya pamer. Lain lagi halnya jika bertujuan mensyukuri nikmat yang ada. Tentu hal ini ada batasannya. "Kalau sampai pamer dan seterusnya tidak boleh, sangat dilarang, sangat jauh dari semangat Id, harusnya lebih pada bagaimana melakukan perubahan lebih baik," jelasnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Play Podcast X