Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Masjid Karya Kang Emil Masuk Nominasi Penghargaan Arab Saudi

Jumat 31 May 2019 18:59 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Rahmat Santosa Basarah

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyampaikan arahannya saat peresmian Jabar Saber Hoaks di Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Jumat (7/12/2018).

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyampaikan arahannya saat peresmian Jabar Saber Hoaks di Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Jumat (7/12/2018).

Foto: Antara/M Agung Rajasa
Dari 200 an desain, dipilih 27 desain.

REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG----Saat ini, potongan video seorang penceramah soal Masjid Al Safar di rest area KM 88 B Tol Cipularang, Purwakarta sedang ramai beredar. Karena, masjid yang didesain Ridwan Kamil dan tim arsitek Urbane tersebut dinilai sarat iluminati.

 

Gubernur Jabar Ridwan Kamil sendiri langsung angkat bicara memberi penjelasan pada warganet tentang makna arsitektur masjid tersebut. 

 

"Masjid Al Safar adalah eksperimentasi teori lipat Folding Architecture. Jika eksperimentasi bentuk itu ditafsir, ya tentu tidak bisa dihindari. Tapi jika disimpulkan bahwa bentuk-bentuknya nya adalah menerjemahkan simbol iluminati dkk, saya kira itu tidak betul. Mari fokus saja ibadah kepada Allah," ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil dalam cuitannya di akun twitter @ridwankamil Jumat (31/5) siang ini.

 

Tudingan tersebut juga malah berbanding terbalik dengan penilaian Al Mafa dari Arab Saudi yang menjadikan masjid tersebut nominasi masjid berasitektur terbaik Abdullatif Al Fozan Award 2019 bersama 26 masjid lain di dunia. Dari data yang diperoleh dari pihak Emil  penghargaan ini diberikan pada masjid-masjid yang menunjukan desain, perencanaan dan ide arsitektur brilian di abad 21.

 

Al Safar sendiri bersaing dengan masjid-masjid unik seperti Masjid Agung Jawa Tengah, Masjid Minor Uzbekistan, Masjid Sancaklar Turki, Masjid Komunitas Ghana hingga dua masjid rancangan Ridwan Kamil dan Urbane sendiri yakni Masjid Raya Sumatera Barat, dan Al Irsyad, Bandung Barat.

 

Principal Urbane Indonesia, Reza Achmed Nurtjahja mengatakan pihaknya dihubungi oleh panitia dari Abdullatif Al Fozan Award dan diminta untuk mengirimkan desain masjid yang telah dibangun dari tahun 2010. 

 

“Kami dikontak oleh panitia dan diminta menyerahkan desain Masjid dari tahun 2010. Mungkin mereka pernah melihat artikel yang membahas masjid Al Irsyad di sebuah majalah arsitektur Asia,” kata Reza. 

 

Reza dan timnya kemudian mengirimkan sembilan desain masjid yang pernah dikerjakan dan tiga diantaranya berhasil menjadi nominator bersama 27 karya lainnya. 

 

“Dari 200an desain dipilih 27 dengan konteks kategorinya yang berbeda-beda,” ungkap Reza. 

 

Reza menjelaskan, Masjid Al Safar dengan luas area mencapai 6.000 meter persegi, Masjid Al Safar berkapasitas hingga 1.200 jamaah dan berada di rest area km 88 ruas jalan Tol Purbaleunyi ini menjadi fasilitas ibadah terbesar se-Indonesia yang dibangun di rest area. 

 

Sama seperti Masjid Al Irsyad, tempat ibadah ini juga dirancang tanpa kubah. Keunikannya terdapat pada bentuknya yang asimeteris hingga banyak yang menyebut desain bangunan ini mirip ikat kepala masyarakat Sunda. 

 

“Kenapa bentuknya miring seperti itu, sebetulnya karena berada di dalam tol yang monoton. Kami ingin meletakkan masjid itu kearah depan dengan diagonal sehingga mereduksi sedikit bentuk jalan tol,” ujar Reza. 

 

Selain itu, kata dia, dalam rancangannya tim Urbane juga memanfaatkan pemandangan perbukitan di sekitar bangunan. 

 

Mengutip  informasi dari situs Abdullatif Al Fozan Award, ajang penghargaan ini pertama kalinya diselenggarakan pada 2011 dan sejak saat itu Abdullatif Al Fozan award telah berlangsung sebanyak tiga kali. 

 

Tiga tahun kemudian, penghargaan ini mulai mencakup desain masjid yang ada di negara-negara Teluk dan di tahun ketiga pada tahun 2017 lalu, cakupan peserta meluas hingga ke negara-negara lain dengan penduduk muslim.

 

Emil sendiri saat ini sudah menuntaskan desain baru Masjid Alajin yang akan dibangun di Gaza Palestina.

 

Masjid tersebut menurutnya dibuat sesuai keinginan masyarakat di sana. “Dari empat pilihan desain yang dipilih yang ada kubahnya, dan itulah yang kita bangun namanya masjid Syeikh Alajin,” katanya.

 

Emil mengatakan, masjid tersebut sebetulnya masjid besar yang hancur oleh serangan tentara Israel. Padahal masjid tersebut selama ini menjadi tempat ibadah utama di Palestina mengingat sudah menghasilkan 7000-an penghapal Alquran.

 

“Sekarang rata dengan tanah maka salatnya ditenda kawinan begitu sehingga betul-betul menderita. Dan mereka request pribadi meminta Gubernur Jabar mendesainkan dan menggalang dananya,” katanya.

 

Pembangunan dan penggalangan dana untuk masjid tersebut menurut Ridwan Kamil menjadi bukti kerukukan umat Islam di Indonesia dan Palestina. Jika terealisasi masjid yang konsepnya memililiki lima kubah besar menandakan Rukum Islam tersebut akan menjadi sumbangan berupa masjid terbesar dari Indonesia. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA