Wednesday, 17 Rajab 1444 / 08 February 2023

Pesona Taman di Sanaa

Jumat 07 Jun 2019 05:15 WIB

Red: Agung Sasongko

Taman kota di Sanaa

Taman kota di Sanaa

Foto: Saba Net
Di masa lalu, Kota Sanaa sangat memesona

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bicara tentang Sana pada saat ini yang terbayang adalah sosok kota yang tidak aman dan jauh dari kesan indah. Maklumlah, negeri tempat Sana berada, yakni Yaman, memang sedang dilanda peperangan. Tak hanya antarsesama warga Yaman, konflik bersenjata itu juga melibatkan negara-negara Liga Arab pimpinan Arab Saudi yang bersama-sama ingin melumpuhkan kekuatan kelompok pemberontak Houthi yang berpaham Syiah.

Melihat kondisi Sana, ibu kota Yaman, saat ini boleh jadi tak banyak orang mengira bahwa di masa lalu kota ini sangat memesona. Tak hanya cantik, Sana juga tampil dengan tata kota yang luar biasa. 

Seorang jurnalis asal Inggris yang tinggal di Yaman, Tim Mackintosh-Smith, menuturkan beragam keindahan Kota Sana. ''Di tengah makin tingginya tuntutan setiap kota untuk menjadi modern, kota ini masih kental nuansa tradisionalnya,''  kata dia seperti dikutip muslimheritage.com.

Di matanya, Sana adalah Kota Venesia versi negeri padang pasir. Sungguh indah. Betapa tidak, di tengah iklim yang panas dan nyaris tanpa kelembapan, kota ini masih mampu menyediakan ruang bagi tumbuhnya pepohonan dan hortikultura. Selain tumbuh di atas tanah, sebagian tetumbuhan itu juga tampil menghias dinding rumah dan gedung.

Di gedung yang menjadi tempat tinggalnya di Jalan al-Zumur, salah satu jalan tersibuk di kawasan Kota Tua Sana, Mackintosh melihat sendiri lantai lima bangunan ini terlihat cantik berkat hiasan tanam-tanaman hijau.

Selain sebagai penghias, tanaman itu juga menjadi salah satu sumber penghidupan warga yang mendiami gedung itu. ''Sebagian tanaman itu juga menjadi sumber makanan bagi hewan ternak mereka,'' katanya.

Ia pun menyebut beberapa tanaman yang tumbuh di dinding bangunan itu, antara lain, teh, selada, daun bawang, dan mint. Terdapat pula beberapa tumbuhan menjalar yang didesain sedemikian rupa sehingga seperti tirai-tirai penghias rumah.

Bila dibandingkan dengan kota-kota besar Islam lainnya, seperti Damaskus dan Bukhara yang selama ini kondang karena taman-taman yang mengelilinginya, Sana pun sama sekali tak kalah. Dalam catatan Mackintosh, di Sana terdapat setidaknya 43 taman yang bila dijumlah luasnya mencapai 7,3 hektare atau 13 persen dari luas kota ini.

Sebagian besar taman-taman itu diberi nama-nama kuno. Sebut saja, misalnya, Taman Miqshamah. Sebagian besar taman ini melekat di dinding Masjid Agung Miqshamah. Untuk menyiram taman ini, tersedia beberapa sumur air bersih. Melalui bantuan katrol, air dari sumur ini ditimba lalu ditampung dalam ember-ember yang kemudian dimanfaatkan untuk menyiram taman dan memenuhi kebutuhan air bersih penduduk.

Selain air sumur, taman itu juga disiram dengan air bekas wudhu para jamaah Masjid Miqshamah. Jadi, air bekas wudhu itu langsung dialirkan ke taman. Begitu pula dengan air hujan tak dibiarkan terbuang, tapi ditadah untuk mengairi taman.

Mengingat pentingnya keberadaan taman itu bagi masyarakat dan lingkungan, para pengurus masjid berupaya agar air tidak pernah berhenti mengalir ke taman. Tokoh agama, imam, muazin, dan warga kota ini turun tangan langsung membuat bak-bak penampungan air lalu mengalirkannya ke taman. Praktik ini telah dilakukan selama berabad-abad, dari masa ke masa.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA