Jumat, 22 Zulhijjah 1440 / 23 Agustus 2019

Jumat, 22 Zulhijjah 1440 / 23 Agustus 2019

Ratusan Bayi dan Anak-Anak Pakistan Terinfeksi HIV

Rabu 22 Mei 2019 09:26 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Ani Nursalikah

Anak-anak di permukiman kumuh di Islamabad, Pakistan.

Anak-anak di permukiman kumuh di Islamabad, Pakistan.

Foto: AP
Penggunaan jarum suntik yang tidak steril diyakini menyebabkan penyebaran virus HIV.

REPUBLIKA.CO.ID, ISLAMABAD -- Ratusan bayi dan balita di Pakistan terinfeksi HIV. Ini menjadi yang pertama kalinya ditemukan anak-anak paling banyak menjadi korban virus mematikan tersebut.

Kasus ini diyakini sebagai kasus yang terburuk di negara Asia Selatan itu. Dalam sebuah pemeriksaan pada bulan lalu di Rotadero, Provinsi Sindh, tiga perempat anak-anak di Pakistan ditemukan positif memiliki HIV. Hampir dua pertiga diantara anak-anak tersebut berusia lima tahun ke bawah.

Baca Juga

Salah satu penyebab mereka terinfeksi HIV diyakini adalah penggunaan jarum tidak steril untuk injeksi, infus, hingga transfusi darah di wilayah itu. Tak sedikit orang yang dianggap sebagai 'dokter' di Pakistan tidak pernah menempuh pendidikan resmi atau dapat disebut sebagai dukun.

Virus ini terdeteksi saat seorang dokter anak menemukan delapan pasien yang tak kunjung sembuh dari demam dan tidak juga membaik setelah diberikan obat. Pemeriksaan lebih lanjut dilakukan hingga ditemukan mereka positif HIV.

Program untuk pemeriksaan itu kemudian dilakukan di Rotadero. Sejak itu, 18.418 orang telah diperiksa dan 607 ditemukan positif terkena HIV. Sebanyak 381 diantaranya berusia lima dan dibawah lima tahun. Jumlah keseluruhan diperkirakan akan terus meningkat dengan temuan lebih lanjut.

Direktur untuk program AIDS dan HIV PBB di Pakistan, Maria Elena Filio-Borromeo mengatakan ini menjadi kasus pertama di Asia di mana anak-anak paling banyak terinfeksi virus tersebut. Kasus ini memberi kekhawatiran karena penanganan bagi orang-orang yang terinfeksi virus mematikan ini sulit dilakukan di negara tersebut.

Banyak anak-anak muda di Pakistan yang terinfeksi HIV, namun sulit mendapat pengobatan karena dinilai langka bagi orang miskin di negara tersebut. Pada 2018, sebanyak 6.200 orang dilaporkan meninggal karena AIDS.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA