Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Pesawat Komersial Diperingatkan tak Lintasi Teluk Persia

Ahad 19 May 2019 19:33 WIB

Rep: Kamran Dikamra/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Pesawat maskapai Emirates Airlines

Pesawat maskapai Emirates Airlines

Foto: OLLIE DALE/EMIRATES/AFP
Diplomat AS ingatkan pesawat komersial untuk tak terbang di atas Teluk Persia

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Para diplomat Amerika Serikat (AS) memperingatkan pesawat komersial agar tak terbang di atas Teluk Persia. Sebab mereka berisiko menjadi target salah sasaran oleh militer Iran.

Peringatan itu disampaikan pos-pos diplomatik AS dari Otoritas Penerangan Federal (FAA). “Meskipun kemungkinan Iran tak memiliki niat menargetkan pesawat sipil, kehadiran beberapa senjata jarak jauh dan antipesawat canggih dalam lingkungan yang tegang menimbulkan kemungkinan risiko salah perhitungan atau kesalahan identifikasi, terutama selama periode ketegangan politik yang meningkat dan retorika,” katanya pada Sabtu (18/5).

Baca Juga

Mereka pun memperingatkan bahwa pesawat bisa mengalami gangguan instrumen navigasi serta komunikasi. Hal itu dapat terjadi dengan sedikit atau tanpa peringatan sama sekali. Sejumlah maskapai seperti Emirates, Etihad, dan Qatar Airways telah mengetahui tentang peringatan itu. Namun mereka menyatakan operasinya akan berjalan seperti biasa. Sementara Oman Air tak menanggapi permintaan komentar.

Kendati demikian, Iran telah menyangkal memiliki niatan untuk mengincar pesawat sipil yang melintasi wilayah udaranya. “Tidak pernah ada ancaman atau risiko terhadap lalu-lintas udara sipil di Teluk Persia dan Iran. Orang tak bisa melupakan fakta bahwa itu memang kapal perang AS yang sengaja menargetkan pesawat sipil Iran. AS belum meminta maaf atas tindakan terorisme terhadap warga sipil Iran,” ujar juru bicara utusan Iran untuk PBB, Alireza Miryousefi.

Pernyataan Miryousefi menyinggung tentang peristiwa tertembaknya pesawat sipil Iran oleh kapal perang USS Vincennes 30 tahun lalu. Seluruh penumpang beserta awak yang berjumlah 290 orang, tewas dalam insiden tersebut. Peristiwa itu terjadi saat Selat Hormuz, yang merupakan jalur perdagangan minyak strategis, sedang dilanda ketegangan.

Washington diketahui sedang memaksa Iran untuk merundingkan kembali kesepakatan nuklir yang tercapai pada 2015. Iran telah menyatakan tak akan bernegosiasi dengan AS. Alih-alih manut kepada desakan AS, Iran justru menangguhkan sebagian keterikatannya dalam kesepakatan nuklir. Ia mengklaim tak lagi memiliki batasan untuk melakukan pengayaan uranium.

AS telah mengirim kapal induk USS Abraham Lincoln dan pesawat bomber B-52 ke Teluk Persia. Presiden AS Donald Trump tak menjelaskan secara detail alasannya mengerahkan armada milirer ke kawasan tersebut. Ia hanya menyebut bahwa ada ancaman serius yang perlu dihadapi. Kehadiran militer AS di sana telah memantik ketegangan.

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA