Sunday, 23 Rajab 1442 / 07 March 2021

Sunday, 23 Rajab 1442 / 07 March 2021

BPOM DIY Temukan Makanan Berbahaya yang Dikamuflase

Jumat 17 May 2019 23:22 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Christiyaningsih

Petugas BPOM menunjukkan kerupuk yang diberi pewarna mengandung Rhodamin B

Petugas BPOM menunjukkan kerupuk yang diberi pewarna mengandung Rhodamin B

Foto: ANTARA FOTO
BPOM DIY temukan makanan mengandung rhodamin b yang dikamuflase

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) DIY menemukan berbagai bahan makanan yang mengandung bahan berbahaya. Bahkan, bahan berbahaya ini dikamuflase dengan mencampurkannya pada bahan lain.

Kepala BPOM DIY Rustyawati mengatakan pihaknya menemukan makanan mengandung bahan berbahaya yang digunakan yakni rhodamin b. Bahan makanan tersebut dikamuflase dengan cara dicampur dengan bahan pewarna lain.

Akibatnya, konsumen sulit mengetahui apakah makanan tersebut mengandung bahan berbahaya atau tidak. Kasus tersebut ditemukan di salah satu pasar tradisional yang ada di Gunung Kidul tepatnya di Pasar Argosari.

"Kalau rhodamin b itu warnanya pink. Tetapi ada juga pengusaha yang mengkamuflase dengan ditambah warna lain sehingga tidak terlihat pink. Ada yang ditemukan warnanya oranye kecoklatan, jadi mengelabui," kata Rustyawati, Jumat (17/5).

Bahan makanan mengandung rhodamin b yang dikamuflase itu terdiri dari berbagai jenis kerupuk. Parahnya, makanan ini berasal dari luar DIY. "Yang kita prihatin adalah sumbernya banyak dari luar DIY yakni Jawa Tengah di Purworejo dan Magelang," ujarnya.

Walaupun sulit mengidentifikasi makanan yang dikamuflase ini, masyarakat tetap diminta cermat dalam membeli makanan. Selain itu, BPOM DIY terus melakukan pengawasan secara ketat agar makanan berbahaya ini tidak sampai ke masyarakat luas.

"Secara fisik susah dikenali. Mungkin petugas bisa mengenali tapi kalau masyarakat agak susah. Teori paling gampang, dibiarkan di suhu ruang. Kalau tahan lebih dari sehari atau tiga hari dan belum basi berarti tidak mengandung rhodamin," ujarnya.

Masyarakat juga diimbau agar mengurangi makanan yang berwarna. Sebab, belum tentu makanan berwarna menggunakan pewarna yang aman. "Ini kita harus waspadai. Sejauh ini kita menemukannya di Argosari baru satu pedagang. Memang tidak banyak, tetapi karena ada harus diwaspadai," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA