Friday, 21 Rajab 1442 / 05 March 2021

Friday, 21 Rajab 1442 / 05 March 2021

Serangan Bunuh Diri Taliban Targetkan Kantor Lembaga AS

Kamis 09 May 2019 06:28 WIB

Rep: Febryan A./ Red: Ani Nursalikah

Pasukan keamanan Afghanistan memeriksa lokasi serangan bunuh diri Taliban di kantor lembaga bantuan AS di Kabul, Afghanistan, Rabu (8/5).

Pasukan keamanan Afghanistan memeriksa lokasi serangan bunuh diri Taliban di kantor lembaga bantuan AS di Kabul, Afghanistan, Rabu (8/5).

Foto: AP Photo/Rahmat Gul
Setidaknya lima orang tewas dan 24 orang luka-luka dalam serangan bunuh diri itu.

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL -- Kelompok Taliban melakukan serangan bunuh diri terhadap kantor lembaga bantuan Amerika Serikat di Kabul, Afghanistan, Rabu (8/5) waktu setempat. Setidaknya lima orang tewas dan 24 orang luka-luka. Perundingan damai Afghanistan juga ikut terancam.

Kelompok Taliban melakukan penyerangan terhadap kantor Counterpart Interntional karena lembaga itu mempromosikan keterbukaan dan kesetaraan antara laki-laki dan wanita. Kejadian itu membuat para kritikus semakin tidak percaya kepada Taliban terhadap isu perlindungan perempuan dan isu kebebasan lainnya.

Serangan itu dimulai dengan meledakkan bom bunuh diri di pintu masuk kantor pusat Counterpart International yang berlokasi di tengah Kota Kabul. Setelah itu, lima orang bersenjata masuk ke dalam gedung itu. Namun, pasukan khusus berhasil menghalangi mereka setelah terlibat aksi tembak-tembakan selama enam jam.

Sebanyak 200 orang terpaksa dievakuasi saat kejadian mengerikan itu berlangsung. Namun, tetap ada korban jiwa. Empat orang masyarakat sipil dan satu orang polisi tewas dalam tragedi berdarah itu. Selain itu, 24 orang mengalami luka serius akibat serangan itu.

Counterpart yang telah beroperasi di Afgahanistan sejak tahun 2005 mengaku bersedih dengan kejadian itu. Untuk sementara waktu, lembaga itu akan fokus mengamankan para pegawainya.

Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mengatakan, serangan itu dilakukan karena Counterpart membawa tradisi barat yang berbahaya kesana. "Mereka mempromosikan hubungan yang terbuka antara lelaki dan perempuan," kata Zabihullah, seperti dilansir The Guardian, Rabu (8/5).

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA