Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Sri Lanka Terima Ancaman Serangan Ekstremis Jelang Ramadhan

Selasa 30 Apr 2019 15:30 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Polisi berjaga di lokasi baku tembak antara tentara dengan terduga militan di Kalmunai, Sri Lanka, Ahad (28/4).

Polisi berjaga di lokasi baku tembak antara tentara dengan terduga militan di Kalmunai, Sri Lanka, Ahad (28/4).

Foto: AP Photo/Gemunu Amarasinghe
Sri Lanka siaga tinggi karea adanya informasi rencana serangan jelang Ramadhan.

REPUBLIKA.CO.ID, KOLOMBO -- Pasukan keamanan Sri Lanka memberlakukan tingkat siaga tinggi jelang Ramadhan. Hal itu menyusul adanya informasi rencana serangan susulan oleh kelompok ekstremis yang mengenakan seragam militer.

Kepala divisi keamanan kementerian kepolisian telah mengatakan dalam sebuah surat kepada anggota parlemen dan pejabat lainnya, bahwa serangan diperkirakan terjadi pada Ahad atau Senin. Serangan tersebut diduga akan dilakukan oleh kelompok ekstremis yang mengenakan seragam militer.

"Keamanan akan tetap ketat selama beberapa hari karena militer dan polisi masih melacak tersangka," kata seorang pejabat senior intelijen polisi, Selasa (30/4).

Baca Juga

Sumber pemerintah lainnya mengatakan kepada Reuters, sebuah dokumen telah diedarkan kepada lembaga-lembaga keamanan utama. Dokumen tersebut menginstruksikan semua polisi dan pasukan keamanan di seluruh Sri Lanka untuk tetap siaga tinggi karena diperkirakan serangan susulan terjadi sebelum Ramadhan. Sementara, umat Muslim Sri Lanka akan melaksanakan puasa Ramadan mulai 6 Mei 2019. 

Hingga Ahad dan Senin lalu, tidak terjadi serangan bom susulan. Namun, pihak keamanan Sri Lanka tetap memperketat keamanan dan menetapkan status siaga tinggi pasca-rangkaian serangan bom bunuh diri yang menyerang tiga gereja dan tiga hotel mewah pada Minggu Paskah lalu. 

Pihak berwenang mencurigai anggota dua kelompok yakni National Thawheedh Jamaath (NTJ) dan Jammiyathul Millathu Ibrahim yang melakukan serangan bom pada Minggu Paskah. Sementara, kelompok ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom tersebut. Pihak berwenang meyakini Zahran Hashim yang merupakan pendiri NTJ, adalah dalang dan salah satu dari sembilan pelaku bom bunuh diri.

Sementara itu di India, polisi telah menangkap seorang pria berusia 29 tahun di negara bagian selatan Kerala, dekat dengan Sri Lanka. Pria itu diduga merencanakan serangan serupa di wilayah tersebut. Badan Investigasi Nasional menyatakan, pria itu telah dipengaruhi oleh pidato yang dibuat oleh Zahran. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA