Wednesday, 6 Zulqaidah 1442 / 16 June 2021

Wednesday, 6 Zulqaidah 1442 / 16 June 2021

Pilpres 2019: Paham Agama Makin Membelah Kita, What Next?

Ahad 28 Apr 2019 16:15 WIB

Red: Elba Damhuri

Denny JA

Denny JA

Foto: denny ja
Jokowi menang makin telak di ujung timur, Prabowo di ujung barat.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Denny JA

“Wah! Paham agama semakin membelah Indonesia.” Itulah guman, setelah saya membaca data. Dan itu gumam yang paling menyedihkan dari pilpres kali ini.

Lama saya terdiam. Saya simak lagi dan lagi peta kemenangan Jokowi dan Prabowo di Pilpres 2019. Ini peta berdasarkan Quick Count LSI Denny JA.

Saya bandingkan dengan peta yang sama hasil Pilpres 2014. Saya bandingkan juga dengan hasil Real Count KPU 2019 yang bisa diakses, yang belum 100 persen selesai.

Jokowi menang telak sekali di provinsi agama minoritas. Di Bali dan Papua, kemenangan Jokowi di atas 80 persen. Di NTT dan Sulawesi Utara kemenangan Jokowi di atas 75 persen.

Saya bandingkan dengan data pilpres 2014. Di empat provinsi agama minoritas itu, Jokowi juga menang.

Tapi kemenangan Jokowi di 2014 tidaklah setelak sekarang, di tahun 2019.  Di Papua dan Bali sebagai misal ada kenaikan dukungan Jokowi sekitar 20 persen, dari 70-an persen (2014) mendalam ke 90-an persen (2019).

Sebaliknya, di Aceh,  dan Sumbar, Prabowo juga menang telak sekali dalam pilpres 2019. Kemenangan Prabowo di sana di atas 80 persen.

Kembali saya bandingkan data itu dengan hasil KPU Pilpres 2014. Prabowo juga menang telak di daerah itu. Tapi kini kemenangan Prabowo jauh lebih telak lagi.

Di Aceh  kemenangan Prabowo memuncak dari 50-an persen (2014) melompat ke 80an persen (2019). Di Sumbar, dari 70-an persen (2014) ke 80-an persen (2019).

Di ujung timur, Jokowi menang semakin telak. Di ujung barat, Prabowo menang semakin telak. Di Jawa tengah dan Jawa timur, Jokowi menang semakin telak. Di Banten dan Jawa Barat, prabowo tetap unggul telak.

-000-

Saya mencoba mecari penjelas yang paling masuk akal. Apa yang membuat provinsi dengan agama minoritas semakin menjauhi Prabowo. Pertanyaan yang sama. Apa yang membuat provinsi seperti Aceh dan Sumbar dan Riau semakin menjauhi Jokowi.

Kini saya bandingkan data perolehan suara dari kantong pemilih agama. Memang terasa mencolok. Pemilih agama minoritas yang memilih Jokowi, dari Kristen, Katolik, HIndu, Budha, KongHuCu dan agama kepercayaan, total sekitar 83 persen. Hanya 17 persen dari komunitas ini yang memilih Prabowo.

Pemilih Muslim jika dilihat di permukaan memang berimbang. Jokowi hanya unggul tipis. Total Jokowi mendapatkan dukungan Muslim sebesar 52 persen versus 48 persen untuk Prabowo.

Namun jika pemilih Muslim itu dibelah kepada ormas, pembelahannya sangat terasa. Prabowo unggul telak di segmen pemilih Muslim FPI dan Reuni 212. Pemilih Prabowo di segmen ini di atas 90 persen.

Persoalannya memang total komunitas FPI dan Reuni 212 belum banyak, masih sekitar di bawah 3 persen saja. Yang banyak memang komunitas NU, sekitar 40-50 persen populasi.

Di kalangan komunitas NU, Jokowi menang moderat, sekitar 54 persen vs 46 persen. Jokowi unggul dengan selisih 8 persen. Tapi dalam komunitas Muhammadiyah (total populasi 5 persen), pendukung Jokowi dan Prabowo berimbang.

Cukup besar pula Muslim yang merasa tak menjadi penganut ormas Islam apapun (40 persen. Posisi Jokowi vs Prabowo juga berimbang di segmen yang tak merasa berafiliasi pada ormas manapun.

Pembelahan yang ekstrem memang di sini. Pemilih minoritas ekstrim ke Jokowi. Islam garis FPI dan Reuni 212 mencolok ke Prabowo. Muhammadiyah dan yang tak berormas berimbang. NU lebih banyak ke Jokowi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA