Thursday, 7 Zulqaidah 1442 / 17 June 2021

Thursday, 7 Zulqaidah 1442 / 17 June 2021

Aktivis Lingkungan Duduki Bursa Efek London dan Stasiun

Kamis 25 Apr 2019 15:04 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Ani Nursalikah

Pengunjuk rasa dari kelompok Extinction Rebellion memblokir jalan di sekitar Parliament Square di London, Rabu (24/4). Mereka memprotes kebijakan pemerintah tentang perubahan iklim.

Pengunjuk rasa dari kelompok Extinction Rebellion memblokir jalan di sekitar Parliament Square di London, Rabu (24/4). Mereka memprotes kebijakan pemerintah tentang perubahan iklim.

Foto: AP Photo/Matt Dunham
Polisi Inggris tangkap 1.088 orang sejak protes dimulai beberapa pekan lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Hari terakhir aksi protes para aktivis lingkungan di London menyasar London Stock Exchange dan naik ke atap kereta di Canary Wharf. Mereka meminta Pemerintah Inggris mengambil tindakan dalam mencegah bencana iklim global.

Di markas Bursa Efek London, Kamis (25/4), enam pengunjuk rasa yang mengenakan jas hitam dan dasi merah menghalangi pintu masuk gedung. Di Stasiun Docklands Light Railway, di Canary Wharf, lima pengunjuk rasa naik ke atas kereta dan membentangkan spanduk yang bertuliskan, "Business as usual = Death".

Kelompok Extinction Rebellion telah menggelar aksi unjuk rasa dalam beberapa pekan terakhir di London. Mereka memblokade Marble Arch, Oxford Circus, dan Waterloo Bridge. Selain itu, mereka juga menghancurkan pintu di gedung Shell dan melakukan aksi di depan gedung parlemen.

"Extinction Rebellion fokus pada industri hari ini. Tujuannya adalah menuntut industri agar mengatakan yang sebenarnya tentang industri iklim, dan dampak buruk yang ditimbulkan oleh industri terhadap planet kita," ujar kelompok Extinction Rebellion dalam pernyataannya.

Polisi telah menangkap 1.088 orang sejak protes dimulai beberapa pekan lalu. Kelompok Extinction Rebellion mengimbau kepada para anggotanya untuk melakukan aksi tanpa kekerasan. Mereka meminta pemerintah mengurangi emisi karbon dan mencegah krisis iklim global yang dapat menyebabkan kelaparan, banjir, kebakaran hutan, dan kehancuran sosial.

Extinction Rebellion mendesak pemerintah mendeklarasikan darurat iklim dan ekologi, dan mengurangi emisi gas rumah kaca menjadi nol persen pada 2025. Selain itu, kelompok tersebut juga mendorong pemerintah agar membuat manjelis publik yang terdiri dari warga masyarakat setempat untuk memimpin pengambilan keputusan dalam mengatasi perubahan iklim.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA