Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Bahaya Penyebaran Hoaks dan Al-Hujurat Ayat 6

Kamis 04 Apr 2019 17:21 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Sejumlah aparatur sipil negara (ASN) mengenakan kaus bertuliskan ajakan untuk melawan hoaks saat apel di Kemendagri, Jakarta, Jumat (22/3).

Sejumlah aparatur sipil negara (ASN) mengenakan kaus bertuliskan ajakan untuk melawan hoaks saat apel di Kemendagri, Jakarta, Jumat (22/3).

Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
Al-Hujurat Ayat 6 meminta umat Islam teliti sumber berita yang dibawa orang fasik

Sekarang ini, kemajuan teknologi informasi telah merubah perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari, merubah kebiasaan dan pola pikir. Media sosial seperti Whatsapp, Instagram, Facebook dan yang lainnya seakan menjadi teman kita paling akrab di era digital ini. Maka tak heran jika di mana pun kita berada, akan dengan begitu mudah kita menemukan orang yang berselancar di media sosial. Baik itu orang tua, dewasa, sampai anak-anak.

Laiknya pisau bermata dua, media sosial bisa digunakan untuk hal-hal yang positif dan bisa juga sebagai alat untuk menebarkan kebencian dan berita palsu (hoaks). Namun akhir-akhir ini rasanya media sosial sebagai alat untuk menebarkan berita hoaks lebih dominan. Melalui teks, gambar, atau simbol, seseorang dengan mudah menyindir dan menertawakan orang lain.Bahkandengan sekali klik orang bisa menghina dan menyesatkan orang lain yang tak sejalan dengannyayang penting sesuai dengan selera, sesuai dengan pilihan politik yang didukungnya.

Baca Juga

Tahun 2019 sekarang ini sebagai tahun politik menjadi bukti banyaknya berita hoaks yang bertebaran di media sosial. Apalagi mendekati 17 April nanti, hampir setiap hariberita hoaks makin gencar. Masing-masing pihak berebut opini, merasa pihaknya benar dan yang lain salah. Dengan bermodalkan jari yang tinggal klik, kejelekan orang tersebar tak tekontrol. Caci maki, fitnah, dan berita yang belum jelas sumbernya saling memperebutkan frekuensi publik, sehingga keberadaanya semakin meresahkan. 

Kenapa budaya “share” itu dengan mudah dilakukan seseorang tanpa berpikir akibat yang akan ditimbulkannya?.

Padahal, bahaya dari penyebaran berita hoaks itu sudah disinggung di dalam surat Al-Hujarat ayat 6 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS al-Hujurat: 6)

Penjelasan ayat di atas bahwa orang fasik itu akan berkata dusta meski terkadang mereka juga dapat berbicara benar. Maka dari itu, berita yang disampaikan tidak serta merta harus diterima atau ditolak, melainkan setelah melewati tahap tabayyun.Islam mengajarkan kepada kita agar jangan percaya begitu saja terhadap berita dari orang lain, apalagi dari orang yang belum kita kenal. Kita harus berhati-hati dalam mencerna berita yang didapat. berita yang benar saja bisa dipahami salah, apalagi berita yang belum jelas sumbernya.

Sebagai seorang Muslim, kita senantiasa harus waspada terhadap orang-orang munafik yang bersembunyi di tengah kaum Muslim yang terus membuat rencana dan tipu daya dengan cara menyebarkan berita hoaks untuk memecah kesatuan umat Islam di Negara tercinta ini. 

Keberadaan orang-orang yang menyebarkan berita hoax itu tertulis dalam firman Allah SWT dalam surat an-Nur ayat 11 yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu mengira berita bohong buruk bagi kamu bahkan ia baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapatkan balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa diantara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya azab yang besar.” (QS an-Nur: 11)

Semoga kita terhindar dari perilaku menyebarkan apalagi pembuat berita hoax, jangan biarkan diri kita terjebak di dalamnya. Amiin ….

Pengirim: Afip Miftahul Basar, M.Pd, Pendidik di SMPIT Nurul Fajri Cikarang Barat-Bekasi

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA