Thursday, 19 Zulhijjah 1442 / 29 July 2021

Thursday, 19 Zulhijjah 1442 / 29 July 2021

Kopi Solok Radjo: Inovasi Milenial Demi Kesejahteraan Petani

Senin 01 Apr 2019 09:50 WIB

Red: Elba Damhuri

Kopi Solok Radjo: Ceri merah kopi Solok Radjo.

Foto:
Kopi Solok Radjo dikelola anak-anak muda usia 30 tahunan dengan visi besar.

Solok Radjo Project

Terobosan dan inovasi yang dibuat KPSU ini pun berbuah manis. Harga ceri merah yang sebelumnya dibeli sangat murah, kini naik ratusan persen menjadi Rp 8.000 sampai Rp 9.000 per kg.

Untuk harga GB yang tadinya tidak sampai Rp 40 ribu per kg, kini antara Rp 90 ribu sampai Rp 140 ribu per kg. Harga GB mengalami kenaikan sangat tinggi dibandingkan sebelum dikelola secara baik oleh koperasi yang dipimpin anak-anak muda berusia 30 tahunan ini.

Produksi kopi GB yang tadinya hanya 2-3 ton per tahun, kini menjadi 50-an ton per tahun. Memang, produksi ini masih lebih rendah dibandingkan tetanggap mereka, kopi Kerinci yang mencapai 600 ton per tahun yang memang sudah terlebih dahulu eksis dan dibina.

photo
Kopi Solok Radjo: Pengurus Koperasi Produsen Serba Usaha Kopi Solok Radjo.

Merek kopi Solok Radjo pun semakin kuat. Produknya diburu tidak hanya di seputaran Solok, Padang, dan kota-kota lainnya di Sumatra, Kopi Solok Radjo sangat diminati di Jakarta dan luar negeri.

Teuku bercerita, makin majunya kopi Solok menarik minat orang-orang untuk belajar tentang perkopian di tempat mereka. Maka, pada 2017 dibentuk Radjo Porject.

Radjo Project ini mencakup kegiatan bagaimana membudidayakan kopi yang baik dari mulai tanam, pasca-panen, dan hingga penjualan.  "Kita juga terlibat dan membantu penjualan tahap awal sehingga mereka bisa mandiri," kata Teuku.

Radjo Project ini bekerja sama dengan berbagai pihak seperti Pemda dan LSM setempat. Proyek ini juga bertugas melakukan sosialisasi kepada masyarkat agar produktivitas dan kesejahteraan petani meningkat.

photo
Kopi Solok Radjo: Edukasi kepada para petani kopi Solok.

Lahan kopi Solok Radjo saat ini mencapai 1.000 hektare dengan jumlah petani binaan ada 800 orang.  Dari total produksi, sebanyak 85 persen dijual ke luar negeri (ekspor) dan sisanya untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal.

Ekspor ditujukan ke Amerika, Australia, dan Taiwan. Per tahunnya, Teuku menjelaskan, ada peningkatan hingga 75 persen terutama untuk 2019 ini. Koperasi bekerja sama dengan berbagai pihak dalam membuat bibit dan membagikan bibit kopi unggul.

Untuk lima Tahun ini, KPSU fokus pada perbaikan budidaya agar peningkatan produksi juga baik. Pada lima tahun kedua baru akan menambah dan membangun pasar lebih luas lagi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA