Thursday, 18 Syawwal 1443 / 19 May 2022

Kasus Bunuh Diri Lebih Banyak Terjadi pada Laki-Laki

Sabtu 09 Mar 2019 17:00 WIB

Rep: Arif Satrio Nugroho/ Red: Friska Yolanda

Gantung diri (ilustrasi).

Gantung diri (ilustrasi).

Foto: Blogspot.com
Perilaku bunuh diri merupakan fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh beberapa faktor

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seorang mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran AH ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya, Hegarmanah, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. AH (22 tahun) pun menambah rentetan mahasiswa Unpad yang meninggal dunia karena bunuh diri, di mana pada Desember 2018 lalu dua mahasiswa Unpad juga ditemukan bunuh diri. 

Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan, kasus bunuh diri masih menjadi fenomena kompleks. Bahkan, jumlah rinci kasus bunuh diri di Indonesia belum bisa dicatat karena belum ada pelaporan secara khusus untuk kasus bunuh diri. Namun, Kemenkes melakukan penelitian yang bersifat estimasi. Hasilnya, laki-laki lebih banyak menjadi korban bunuh diri. 

Baca Juga

"Insya Allah benar dan belum ada perkembangan baru, sebanyak 29 persen korban adalah perempuan, sementara 71 persen adalah laki-laki," kata Direktur Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan Fidiansyah dikonfirmasi Republika.co.id, Sabtu (9/3).

Fidiansyah menjelaskan, usia termuda korban bunuh diri adalah 12 tahun, dan usia tertua yaitu 87 tahun. Adapun yang menduduki usia paling banyak menjadi korban bunuh diri ada pada kelompok usia 10-39 tahun dengan angka 47,7 persen. Sehingga, usia mahasiswa AH termasuk dalam usia yang paling sering menjadi korban bunuh diri.

Kendati demikian, Fidiansyah menjelaskan, penyebab bunuh diri tak bisa disimpulkan secara sembarangan atau dikaitkan begitu saja dengan profesi atau status sosial seseorang. Perilaku bunuh diri, kata dia, merupakan fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berinteraksi, baik faktor pribadi pelaku, sosial, psikologis, budaya, biologi, dan lingkungan. 

Namun, kata Fidiansyah, bunuh diri pada umumnya terjadi karena masalah kejiwaan atau gangguan jiwa. Permasalahan itu dipicu oleh stres, kehilangan harga diri, hingga rasa putus asa. 

World Health Organization (WHO) mencatat bunuh diri sebagai fenomena global. Berdasarkan data WHO, 79 persen bunuh diri terjadi pada negara-negara dengan pendapatan rendah dan menengah pada 2016. WHO mencatat, 1,4 persen kematian di seluruh dunia disebabkan oleh bunuh diri.

Berdasarkan data WHO, bunuh diri di Indonesia juga meningkat. Pada 2016, 5,2 pria dari 100 ribu orang melakukan bunuh diri. Sementara, pada 2016, 2,2 perempuan dari 100 ribu orang bunuh diri. 

Bila dirata-rata dari kedua jenis kelamin, 3,7 dari 100 ribu orang Indonesia melakukan bunuh diri. Indonesia berada di peringkat 159 dalam hal tingkat bunuh diri di dunia. 

Negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi di dunia adalah Guyana dengan angka 30,2. Kemudian, di peringkat kedua adalah Lesotho dengan tingkat bunuh diri 28,9. Kemudian di peringkat ketiga adalah Rusia dengan tingkat bunuh diri 25,5.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA