Sunday, 27 Ramadhan 1442 / 09 May 2021

Sunday, 27 Ramadhan 1442 / 09 May 2021

Kolombia Izinkan Warga Venezuela Berpaspor Kedaluwarsa Masuk

Sabtu 09 Mar 2019 12:38 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah

Warga Venezuela memasuki Kolombia dengan menyeberangi jembatan internasional Simon Bolivar dari San Antonio del Tachira, Venezuela, Kamis (21/2). Rakyat Venezuela mengalami kelangkaan makanan dan obat-obatan.

Warga Venezuela memasuki Kolombia dengan menyeberangi jembatan internasional Simon Bolivar dari San Antonio del Tachira, Venezuela, Kamis (21/2). Rakyat Venezuela mengalami kelangkaan makanan dan obat-obatan.

Foto: AP Photo/Rodrigo Abd
Pembaruan paspor di Venezuela hampir mustahil karena tingginya biaya dokumen.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOTA -- Kepala Agen Migrasi Kolombia, Christian Kruger mengatakan, Kolombia akan mengizinkan warga Venezuela melintasi perbatasan menggunakan paspor kedaluwarsa, Jumat (8/3). Langkah ini dilakukan mengingat sulitnya memperbarui dokumen perjalanan di tengah krisis ekonomi.

"Pembaruan paspor di Venezuela hampir mustahil karena tingginya biaya dokumen, karena kurangnya bahan baku untuk membuatnya dan karena tindakan lain dari pihak Venezuela untuk mengekang keluarnya warga Venezuela," kata Kruger.

Lebih dari 1,2 juta rakyat Venezuela melarikan diri karena mengalami kekurangan makanan, dan obat-obatan yang meluas. Ini terjadi karena krisis politik yang kompleks sehingga membuat mereka bermigrasi ke Kolombia.

Banyak yang datang tanpa visa karena mereka tidak dapat memperbarui paspor mereka. Kruger dalam sebuah pernyataan menyebutkan, warga Venezuela sekarang akan dapat menggunakan paspor lama hingga dua tahun setelah tanggal kedaluwarsa.

photo
Pemimpin Majelis Nasional Juan Guaido memproklamirkan diri sebagai presiden sementara Venezuela di Central University of Venezuela di Caracas.
Langkah itu merupakan bagian dari perjanjian baru-baru ini yang dibuat oleh Lima Group untuk memberikan keamanan migran. Selain itu, kebijakan ini dibuat guna mencegah mereka beralih ke kelompok perdagangan untuk menyeberangi perbatasan.

Sebagian besar negara Barat mengakui kepemimpinan oposisi Venezuela, Juan Guaido. Mayoritas negara Barat tidak mengakui Presiden Nicolas Maduro sebagai pemimpin sah Venezuela.

Upaya Guaido membawa ratusan ton bantuan kemanusiaan ke Venezuela sebagian besar terhalang pada bulan lalu oleh Maduro. Pasukannya memblokir konvoi truk bantuan sehingga terjadi bentrokan yang menewaskan sedikitnya enam orang.

"Tidak ada yang lebih berbahaya bagi suatu negara selain tidak tahu siapa yang berada di dalam perbatasannya. Menutup perbatasan dan menuntut dokumen resmi dari populasi yang melarikan diri dari kediktatoran karena kelaparan," ucap Kruger.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA