Sunday, 4 Zulhijjah 1443 / 03 July 2022

Pecalang, Nyepi, dan Indahnya Toleransi di Bali

Jumat 08 Mar 2019 23:39 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Pecalang atau petugas pengamanan adat Bali berjabat tangan dengan umat muslim yang selesai melakukan Salat Isya berjamaah di Masjid Agung Asasuttaqwa saat melakukan patroli malam di Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1941 di wilayah Desa Adat Tuban, Badung, Bali, Kamis (7/3/2019).

Pecalang atau petugas pengamanan adat Bali berjabat tangan dengan umat muslim yang selesai melakukan Salat Isya berjamaah di Masjid Agung Asasuttaqwa saat melakukan patroli malam di Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1941 di wilayah Desa Adat Tuban, Badung, Bali, Kamis (7/3/2019).

Foto: Antara/Fikri Yusuf
Umat Islam di Bali masih bebas menjalakan ibadah meski tanpa pengeras suara.

REPUBLIKA.CO.ID, BADUNG— Pecalang atau petugas pengamanan adat Bali di wilayah Desa Adat Tuban, Badung, Bali, melakukan patroli berkeliling wilayah setempat saat malam Hari Raya Nyepi tahun Saka 1941.

"Patroli malam ini dilakukan untuk menjamin keamanan dan kelancaran umat Hindu yang saat ini sedang menjalankan brata penyepian," ujar Bendesa Adat Tuban, I Wayan Mendra, di Badung, Kamis malam.

Baca Juga

Ia mengatakan, patroli malam sejak Kamis (7/3) malam hingga Jumat (8/3) dini hari itu dilakukan khususnya untuk memastikan kondisi lampu penerangan rumah warga, termasuk penerangan kamar-kamar hotel yang dihuni wisatawan telah dipadamkan.

"Hal itu berkaitan dengan salah satu catur Brata penyepian yaitu, 'amati geni' atau tidak menyalakan api termasuk menyalakan lampu selama Hari Raya Nyepi," katanya.

Selain itu, patroli dilakukan untuk menjaga keamanan dan mengantisipasi berbagai kemungkinan tindak kriminalitas yang dapat terjadi saat Hari Raya Nyepi.

"Jadi, kami juga mengantisipasi tindak kriminalitas seperti kalau ada penyusup yang masuk ke wilayah desa kami dengan niat melakukan perbuatan kriminal," katanya.

Saat melakukan patroli di malam Nyepi itu, Pecalang setempat juga melakukan penjagaan terhadap sejumlah umat Muslim yang melakukan ibadah Shalat Isya’ berjamaah di Masjid Agung Asasuttaqwa.

"Kami memberikan toleransi kepada umat Muslim termasuk umat beragama lain yang melakukan kegiatan peribadatan saat Hari Raya Nyepi baik siang maupun malam," kata Wayan Mendra.

Saat Hari Raya Nyepi, umat Islam di wilayah itu diberikan kesempatan untuk menjalankan ibadah dengan kondisi penerangan yang minim serta tidak menggunakan pengeras suara.

"Mereka juga tidak diperkenankan menggunakan kendaraan bermotor. Oleh karena itu biasanya yang beribadah hanya warga yang tempat tinggalnya berada di dekat kawasan masjid," ujarnya.

 

Haji Hanafi, seorang warga yang menjalankan ibadah di masjid tersebut mengatakan, setiap Hari Raya Nyepi pihak desa selalu memberikan toleransi bagi umat Muslim yang akan melakukan kegiatan peribadatan seperti salat berjamaah di masjid

"Alhamdulillah ibadah bisa lancar dan tidak terganggu, kami juga tetap saling menghargai dan menghormati umat Hindu saat Hari Raya Nyepi dengan tidak menggunakan pengeras suara serta lampu penerangan yang minim," katanya. 

Kondisi Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai yang juga masuk kawasan Desa Adat Tuban juga tampak sepi, tanpa aktivitas penerbangan, karena pengelola Bandara Ngurah Rai juga menghentikan operasionalnya selama 24 jam.

"Penghentian sementara operasional bandara dilakukan untuk menghormati umat Hindu di Bali agar dapat menjalankan ibadah Brata Penyepian dengan khusyuk," ujar Communication and Legal Section Head Bandara Ngurah Rai, Arie Ahsanurrohim, beberapa waktu yang lalu.

Selama 24 jam penghentian operasional bandara, tercatat sedikitnya 468 penerbangan yang tidak beroperasi. Penerbangan tersebut terdiri dari 261 penerbangan penerbangan rute domestik dan 207 penerbangan rute internasional.  

 

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA