Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Sekuel Buruk Film Kim Jong-un dan Trump

Kamis 07 Mar 2019 05:17 WIB

Red: Indira Rezkisari

Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korut Kim Jong-un bertemu di Vietnam, Rabu (27/2).

Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korut Kim Jong-un bertemu di Vietnam, Rabu (27/2).

Foto: AP
Korsel mengaku turut gelisah melihat perkembangan pertemuan Jong-Un dan Trump.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia Kim Chang-beom menyampaikan kekecewaannya atas hasil pertemuan kedua antara Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Hanoi, Vietnam, pada 27-28 Februari. Dubes Kim, yang menganalogikan pertemuan Trump-Kim sebagai film, menyebut pertemuan di Hanoi sebagai sekuel yang tidak sebagus film pertama atau pertemuan pertama mereka di Singapura, Juni 2018.

"Terkait pertemuan kedua di Hanoi, kami semua gelisah dan penasaran untuk mengetahui apa yang akan terjadi. Dan karena mempunyai ekspektasi tinggi terhadap hasil pertemuan antara Presiden Trump dan Pemimpin Kim, kami merasa sedikit kecewa atas ketiadaan kesepakatan antara kedua pemimpin tersebut," kata Dubes Kim dalam diskusi dengan sejumlah media di Jakarta, Rabu (6/3).

Penandatanganan kesepakatan mengenai upaya mengakhiri program nuklir Pyongyang batal. Perundingan antara kedua pihak selesai lebih cepat karena AS menolak tuntutan Korea Utara untuk mencabut seluruh sanksi ekonomi.

Trump dan Kim juga segera kembali ke negara masing-masing, sesaat setelah pertemuan di Hanoi selesai.

Meski demikian, Korea Selatan mencatat beberapa sisi positif dalam pertemuan tersebut, salah satunya bahwa AS dan Korea Utara tidak saling menyalahkan.

"Mereka menggambarkan pertemuan tersebut sebagai sesuatu yang produktif. Jadi aspek pertama yang bisa saya lihat dari perspektif yang optimistis adalah setidaknya mereka telah membuka pintu konsultasi dan negosiasi lebih lanjut," tutur Dubes Kim.

Sisi positif kedua yang diperoleh dari pertemuan kedua Trump-Kim di Hanoi adalah transparansi posisi masing-masing negara untuk menangani isu-isu sensitif yang dihadapi kedua negara. Terutama mengenai denuklirisasi dan pencabutan sanksi terhadap Korea Utara.

Dalam pertemuan tersebut, Trump secara jelas menuntut Korea Utara membongkar Pusat Riset Ilmiah Nuklir Yongbyon. Permintaan tersebut akan diamini oleh Korea Utara jika seluruh sanksi ekonomi AS terhadap negara tersebut dicabut.

"Sayangnya masih ada perbedaan interpretasi (antara Trump dan Kim) terkait kesepakatan tersebut," tutur Dubes Kim.

Sisi positif lainnya ialah AS telah menyampaikan gagasan yang mungkin mengarah pada kantor penghubung (liaison office) AS di Korea Utara, dan beberapa langkah yang mengarah pada normalisasi hubungan antara AS dan Korea Utara.

"Jadi sebenarnya banyak hasil yang bisa dipetik, tetapi itu tergantung pada seberapa besar upaya Korea Utara melakukan denuklirisasi. Apa yang bisa kita harapkan sekarang adalah bagaimana agar proses negosiasi bisa tetap berlanjut," ujar Dubes Kim.


sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA