Thursday, 16 Safar 1443 / 23 September 2021

Thursday, 16 Safar 1443 / 23 September 2021

Palestina Marah Atas Penggabungan Konsulat AS di Yerusalem

Senin 04 Mar 2019 12:34 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Rambu jalan kedutaan besar AS di Yerusalem

Rambu jalan kedutaan besar AS di Yerusalem

Foto: Jerusalem Municipality via AP
AS menganggap keputusan tersebut didorong oleh efesiensi operasional.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Konsulat Amerika Serikat (AS) di Yerusalem yang melayani warga Palestina akan digabung ke Kedutaan baru AS untuk Israel pada Senin (4/3). Demikian informasi Departemen Luar Negeri.

Keputusan untuk membentuk misi diplomatik tunggal di Al-Quds (Yerusalem) sebetulnya telah diumumkan pada Oktober oleh Menteri Luar Negeri Mike Pompeo.

Baca Juga

Penggabungan tersebut menuai kemarahan para pemimpin Palestina. Penggabungan itu meningkatkan kekhawatiran warga Palestina bahwa pemerintah Trump mulai mengganggap remeh masalah mereka di kota yang disengketakan Al-Quds, rumah bagi situs-situs suci umat Yahudi, Muslim dan Kristen.

Presiden AS Donald Trump membuat geram dunia Arab dan memicu kecaman internasional atas pengakuan Al-Quds (Yerusalem) sebagai ibu kota Israel pada Desember 2017. Tidak hanya itu, AS juga telah memindahkan Kedutaan Besar mereka dari Tel Aviv ke Al-Quds (Yerusalem) pada Mei lalu.

Para pemimpin Palestina menangguhkan hubungan diplomatik dengan Pemerintah AS pascapemindahaan kedutaan. Palestina memboikot upaya-upaya AS untuk menyusun rencana perdamaian antara Israel dan Palestina yang telah lama dinanti. Palestina menyebut Washington bias pro-Israel.

Konsulat Jenderal AS di Yerusalem merupakan misi utama bagi warga Palestina yang dengan dukungan luas internasional mengupayakan Al-Quds (Jerusalem) Timur sebagai ibu kota negara.

Menurut Juru Bicara Departemen Luar Negeri, Robert Palladino keputusan tersebut didorong oleh efesiensi operasional.

"Ini bukan sinyal perubahan kebijakan AS tentang Al-Quds (Yerusalem), Tepi Barat dan Jalur Gaza," katanya dalam satu pernyataan. "Batas-batas khusus kedaulatan Israel di Al-Quds (Jerusalem) tunduk pada status akhir perundingan antara para pihak."

Status Al-Quds (Yerusalem) merupakan salah satu sengketa paling rumit antara Israel dan Palestina. Israel menganggap seluruh kota, termasuk sektor di bagian timur yang dirampasnya dalam perang Timur Tengah pada 1967, sebagai ibu kota abadi dan tak terpisahkan.  Namun hal tersebut tidak diakui secara internasional.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA