Wednesday, 6 Zulqaidah 1442 / 16 June 2021

Wednesday, 6 Zulqaidah 1442 / 16 June 2021

Donald Trump: Ekonomi Korea Utara tidak Memiliki Masa Depan

Ahad 03 Mar 2019 12:18 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korut, Kim Jong-un bertemu di Vietnam, 27 Februari 2019

Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korut, Kim Jong-un bertemu di Vietnam, 27 Februari 2019

Foto: AP
Pertemuan Donald Trump dan Kim Jong-un di Vietnam berakhir tanpa kesepakatan.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan perekonomian Korea Utara tidak memiliki masa depan jika mereka tetap mempertahankan senjata nuklir. Pentagon juga sudah mengkonfirmasi AS dan Korea Selatan (Korsel) sepakat mengakhiri latihan militer gabungan dalam skala besar.

"Masa depan perekonomian Korea Utara luarbiasa, brilian jika mereka membuat kesepakatan, tapi perekonomian mereka tidak memiliki masa depan jika mereka memiliki senjata nuklir," kata Trump dalam Konferensi Aksi Politik Konservatif (CPAC), Ahad (3/3).

Di sisi lain, Trump mengatakan hubungan AS dan Korut tampaknya akan 'sangat-sangat kuat'. Berdasarkan keterangan Pentagon, Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan AS Patrick Shanahan sudah bertemu dengan Menteri Pertahanan Korsel.

"Keduanya memperjelas keputusan Persekutuan untuk mengadaptasi program latihan kami dengan mencerminkan hasrat kami untuk mengurangi ketegangan dan mendukung upaya diplomatik untuk melengkapi kesepakatan denuklirisasi Semenanjung Korea sampai final," kata Pentagon dalam keterangan mereka.

Militer Korsel juga mengeluarkan keterangan yang mengkonfirmasi rencana untuk mengakhiri latihan militer gabungan. Perwakilan Khusus Perdamaian Semananjung Korea dan Hubungan Pertahanan Korsel Lee Do-hoon berencana mengunjungi AS pada pekan depan untuk bertemu dengan pejabat AS membahas pertemuan kedua AS-Korut dan juga agenda di masa mendatang.

"AS dan Korea Selatan sudah sepakat untuk merancang ulang Pos Komando latihan dan merevisi program latihan lapangan," kata Pentagon.

Pejabat-pejabat AS juga sudah lama mengatakan akan mengurangi skala latihan lapangan yang dikenal dengan Foal Eagle dan Key Resolve. Sebelumnya dilaporkan hal ini akan segera diumumkan.

Untuk mendorong pertemuan kedua antara Trump dan Pemimpin Korut Kim Jong-un sejak tahun lalu AS dan Korsel sudah banyak mengurangi latihan bersama mereka. Tapi pertemuan kedua yang digelar di Hanoi, Vietnam tidak menghasilkan kesepakatan apa-apa.

Dalam pidatonya di CPAC, Trump menyingung tentang kritik orang tua Otto Warmbier, mahasiswa Amerika yang meninggal dunia setelah ditahan di Korut selama 17 bulan. Mereka mengkritik ucapan Trump di konferensi pers paska pertemuan kedua di Vietnam. Trump mengatakan ia yakin Kim Jong-un tidak ada hubungannya dengan kematian Warmbier.

Di CPAC, Trump mengatakan saat itu ia berusaha 'menjaga keseimbangan yang rapuh' agar Korut bersedia menyerahkan senjata nuklir mereka. AS dan Korut mengatakan mereka akan melanjutkan pembicaraan tentang hal itu tapi belum tentukan waktunya.

Beberapa pengamat memuji Trump yang menolak untuk membuat kesepakatan buruk dalam pertemuan kedua di Hanoi. Beberapa pengamat yang lainnya mengkritik Trump yang terlalu memuji kepemimpinan Kim dan menerima begitu saja perlakukan buruk yang mengakibatkan kematian Warmbier.

Para analis yakin Korut memiliki 20 sampai 60 hululedak nuklir yang dapat mengancam AS jika dipasang ke rudal balistik interkontinental. PBB dan AS sudah memberikan sanksi kepada Korut karena melakukan ujicoba rudal berkekuatan nuklir pada 2017 lalu.

AS mempertahankan sanksi tersebut sampai Korut dapat menunjukkan bukti yang dapat diverifikasi dan tak terbantahkan mereka telah melakukan denuklirisasi. Korut mengecam langkah AS tersebut dan mengatakan langkah itu adalah 'gertakan ala mafia'.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA