Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Kim Jong-un Pulang Setelah Gagal Bersepakat dengan Trump

Ahad 03 Mar 2019 08:40 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korut Kim Jong-un bertemu di Vietnam, Rabu (27/2).

Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korut Kim Jong-un bertemu di Vietnam, Rabu (27/2).

Foto: AP
Pertemuan Donald Trump dan Kim Jong-un di Vietnam berakhir tanpa kesepakatan.

REPUBLIKA.CO.ID, HANOI -- Sambil tersenyum dan mengangkat kedua tangannya, pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un pulang menaiki kereta pribadi di perbatasan Vietnam-Cina yang akan menempuh perjalanan 60 jam lebih pada Sabtu (2/3) waktu setempat. Kepulangannya mengakhiri konferensi tingkat tinggi (KTT) di Hanoi yang gagal mencapai kesepakatan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Hari terakhir Kim di Hanoi ia habiskan dengan berkunjung ke makam pahlawan nasional Ho Chi-minh. Kim juga datang meletakkan karangan bunga besar berwarna merah dan kuning di situs peringatan perang. "Saya berduka cita para pahlawan dan martir patriotik," ujarnya di Monumen untuk pahlawan dan martir perang.

Kim dikelilingi oleh tentara Vietnam dengan seragam putih bersih dan rombongannya sendiri dari pejabat tinggi Korut. Di perbatasan, ia keluar dari limusin lapis baja dan menggenggam tangannya, kemudian melambaikan tangan ke kerumunan orang yang bersorak-sorai akan kepergiannya.

Sebelumnya, Trump telah lebih dulu bertolak ke Washington. Pada Jumat, Kim menyempatkan diri bertemu dengan Presiden Vietnam dan ketua Partai Komunis, Nguyen Phu Trong.

Pertemuan Kim dan Trump berakhir dengan kebuntuan pada Kamis lalu. Kedua negara bersi tegang tentang berapa banyak sanksi bantuan yang harus diberikan Washington kepada Pyongyang sebagai imbalan atas langkah-langkah perlucutan nuklir.

Korea Selatan (Korsel) menawarkan untuk memfasilitasi pembicaraan Kim-Trump di kemudian waktu. Dalam konferensi pers-nya, Kim menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan humor dan mudah ketika berhadapan dengan media internasional yang agresif. Ia berdiri teguh pada tuntutannya untuk keringanan sanksi yang dijatuhkan atas program nuklir Korut. Menurutnya, program sanksi dibangun untuk mengakhiri kepemimpinannya.

Media Korut mengatakan, Kim dan Trump menghargai bahwa pertemuan kedua di Hanoi memperdalam rasa saling menghormati dan kepercayaan, serta menempatkan hubungan antara kedua negara pada tahap baru. Korut mengatakan, telah meminta bantuan sanksi parsial dengan imbalan menutup situs nuklir utamanya di Yongbyon. Yangbyon merupakan fasilitas produksi bahan bakar nuklir, meski bukan satu-satunya tempat Korut diyakini membuat bahan bakar bom.

Sementara itu, pejabat senior AS menyatakan bahwa Korut menginginkan keringanan sanksi dengan imbalan hanya pembongkaran sebagian Yongbyon. AS juga menuntut Korut membatalkan lebih banyak program nuklirnya untuk konsesi tingkat tinggi. Pertemuan ketiga untuk kedua pemimpin negara tersebut belum jelas.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA