Wednesday, 30 Ramadhan 1442 / 12 May 2021

Wednesday, 30 Ramadhan 1442 / 12 May 2021

Analisis Partai Nasionalis Raih Banyak Suara Pemilih Muslim

Sabtu 23 Feb 2019 14:10 WIB

Rep: Ali Mansur/ Red: Andri Saubani

Hasil Survei Partai Politik LSI: Siluet Peneliti LSI Denny JA, Rully Akbar mempresentasikan Hasil rilis Lingkaran Survei Indonesia terkini bertajuk 'Pergeseran Dukungan Partai Politik di 6 Kantong Suara' di Kantor Lingkaran Survei Indonesia, Jakarta, Rabu (20/2/2019).

Hasil Survei Partai Politik LSI: Siluet Peneliti LSI Denny JA, Rully Akbar mempresentasikan Hasil rilis Lingkaran Survei Indonesia terkini bertajuk 'Pergeseran Dukungan Partai Politik di 6 Kantong Suara' di Kantor Lingkaran Survei Indonesia, Jakarta, Rabu (20/2/2019).

Foto: Antara/Reno Esnir
Berdasarkan survei LSI Denny JA PDIP paling banyak menguasai suara pemilih muslim.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menjelang pemilihan legislatif (Pileg) 2019 ada catatan menarik dari hasil jejak pendapat lembaga survei Lingkar Survei Indonesia (LSI) Denny JA. Disebutkan, sejumlah partai nasionalis mengusai pemilih muslim, bahkan Partai Demokrasi Perjuangan (PDIP) yang dianggap sebagai 'partai kiri' memiliki pemilih muslim paling banyak. Sementara sejumlah partai Islam berpotensi tidak lolos ambang batas parlemen.

Peneliti Media Survei Nasional (Median), Ade Irfan Abudurrahman menilai, penyebab partai nasionalis terutama PDI Perjuangan unggul di pemilih muslim lebih karena coattail effect atau efek ekor jas. Yakni, memandang Joko Widodo sebagai pribadi yang kebetulan diusung oleh PDI Perjuangan. 

"Tidak hanya PDIP coattail effect ini juga menguntungkan Gerindra yang diasiosiasikan kuat dengan Prabowo," jelas Ade Irfan saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (23/2).

Menurut Ade Irfan fenomena partai nasional atau partai yang bukan berbasis Islam mendominasi pemilih muslim bukanlah hal baru. Bila dicermati total perolehan suara parpol Islam sejak dulu memang tidak merefleksikan jumlah pemilih muslim. Perolehan total suara teritinggi parpol Islam terjadi pada pemilu 1955 di angka 44 persen.

"Sedangkan di era reformasi belum sekalipun total suara parpol Islam melampaui pemilu 1955," kata dosen komunikasi politik Universitas Islam Syekh Yusuf Tangerang itu.

Disamping itu, basis suara muslim telah menjadi garapan marketing politik semua partai, baik nasionalis maupun partai Islam. Semua parpol mengadakan kegiatan keagaan seperti pengajian, tabligh akbar, tidak hanya itu banyak ulama yang juga masuk dan ada di partai-partai nasionalis. Kemudian partai berbasis Islam juga sangat minim Tokoh yang menjadi pendulang elektoral.

"Adanya opini negatif publik terhadap partai-partai Islam yang justru tersandung kasus-kasus korupsi. Hal ini menyebabkan publik beropini bahwa partai Islam tidak banyak berbeda dengan partai nasionalis," terangnya.

Selanjutnya, kata Ade Irfan, ada beberapa langkah strategis yang harus dilakukan partai berbasis Islam agar mendulang suara banyak, terutama bagi yang berpotensi tidak lolos ambang batas. Pertama memunculkan tokoh nasional yang siap bertarung menjadi pemimpin baik tingkat nasional maupun di level pemilihan kepala daerah (pilkada). Partai berbasis Islam harus mampu memanfaatkan media massa dan media sosial untuk mensosialisasikan tokoh-tokohnya nya.  

Kedua, memperbaiki citra negatif di mata masyarakat, khususnya umat Islam sebagai basis suara. Ketiga memperkuat basis massa di grass root dan perbanyak silaturahim dengan tokoh agama atau organisasi kemasyarakatan.

"Terakhir harus mampu menawarkan program yang menjadi masalah dasar masyarakat seperti masalah ekonomi," tutup Ade Irfan.

Berikut jumlah pemilih muslim dia atas ambang batas di masing-masing partai versi LSI Denny JA:

PDIP: 18,4 persen
Gerindra: 16,6 persen
Golkar: 11 persen
PKB: 9,3 persen
Demokrat: 5,9 persen
Nasdem: 4,7 persen
PKS: 4,6 persen
PPP: 4,1 persen

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA