Wednesday, 7 Syawwal 1442 / 19 May 2021

Wednesday, 7 Syawwal 1442 / 19 May 2021

IBF Dibutuhkan untuk Tingkatkan Literasi Masyarakat Muslim

Kamis 21 Feb 2019 16:18 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Andi Nur Aminah

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Yunahar Ilyas

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Yunahar Ilyas

Foto: Republika TV/Havid Al Vizki
Kehadiran IBF sangat bagus sekali untuk masyarakat terutama umat Islam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kehadiran Islamic Book Fair (IBF) yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center (JCC) pada 27 Februari - 3 Maret 2019 dipandang positif. Sebab IBF dibutuhkan masyarakat Indonesia untuk meningkatkan literasi mereka.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof Yunahar Ilyas mengatakan, pihaknya mendukung IBF untuk diselenggarakan secara rutin. Sebab kehadiran IBF sangat bagus sekali untuk masyarakat terutama umat Islam.

"IBF bisa mendorong keinginan masyarakat untuk membaca buku, perlu mengadakan IBF (secara rutin), (IBF) sangat dibutuhkan untuk meningkatkan literasi masyarakat," kata Yunahar kepada Republika.co.id, Kamis (21/2).

Baca Juga

Yunahar yang juga Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengusulkan agar promosi IBF dilakukan lebih terfokus lagi. Panitia IBF disarankan secara khusus mengundang sekolah, kampus dan pesantren untuk menghadiri IBF.

Menurutnya, panitia IBF bisa menyediakan hari tertentu untuk kampus atau sekolah tertentu yang diundang. Sebelum IBF dimulai, bila perlu panitianya menyelenggarakan road show IBF ke sekolah, kampus dan pesantren. Sehingga bisa merangsang mereka untuk datang ke IBF dan membaca buku.

Ia berpandangan, ajang IBF juga sangat bagus bagi para penerbit buku. Sebab semakin banyak masyarakat yang senang membaca dan membeli buku, maka usaha penerbitan pun semakin baik. "Maka penulis perlu dirangsang karena penulis buku masih kurang di Indonesia, penerbit juga harus dirangsang supaya bisa untung," ujarnya.

Yunahar menjelaskan, kalau dibandingkan dengan bangsa-bangsa maju seperti Jepang dan Amerika, minat baca bangsa Indonesia jauh tertinggal. Di Amerika, belajar dua satuan kredit semester (SKS) minimal harus membaca 100 halaman buku setiap pekan.

Ia menerangkan, jadi selama satu semester, mahasiswa di sana bisa membaca 1.400 halaman buku. Maka kehadiran IBF di Indonesia tepat sekali karena bisa meningkatkan minat baca masyarakat.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA