Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

A Hassan: Guru Pak Natsir, Kawan Debat Bung Karno (5)

Kamis 14 Feb 2019 17:26 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Lambang Persis.

Lambang Persis.

Foto: islamedia.web.id
Natsir sering dipinjami buku oleh Hassan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seperti telah dijelaskan di muka, A Hassan merupakan seorang autodidak. Sekolah dasar saja tidak tamat. Namun, hal itu tidak sama sekali menyurutkan langkahnya dalam belajar sepanjang hayat.

Penguasaan bahasanya meliputi Tamil, Melayu, Arab, dan Inggris. Sementara itu, anak-anak yang bersekolah di Bandung—semisal Natsir—ada yang fasih berbicara dalam bahasa asing. Tidak hanya Inggris, melainkan juga Prancis, Jerman, dan Belanda; bahkan Latin.

Baca Juga

Oleh karena itu, Hassan bersikap cermat supaya mereka yang datang kepadanya tidak merasa pandai hanya karena cakap berbahasa Eropa. Ya, sikap jemawa biasanya menjauhkan orang dari keinginan mempelajari agama sendiri—dan hal itulah yang mesti dihindari.

Hassan hijrah dari Surabaya ke Bandung pada 1924. Awalnya kepindahan itu dilandasi niat mengembangkan bisnis. Namun, belakangan tumbuh minat serius untuk ikut berdakwah di kota Paris van Java itu, terutama melalui Persatuan Islam (Persis).

Di mata Hassan, cukup banyak pemuda Muslim Bandung yang menyimpan potensi besar. Di antaranya adalah Natsir. Pemuda Minang tersebut sering berkunjung ke rumah Hassan, baik sendirian maupun bersama dengan para sahabat seperjuangannya—sebut saja Fakhruddin al-Khairi, Bachtiar Effendi, atau Isa Anshari.

Hassan pun selalu meluangkan waktu sepenuhnya. Tak terasa, berjam-jam lamanya guru dan murid itu berdiskusi tentang macam-macam soal. Mereka hanya jeda setiap waktu shalat tiba. Sesudah azan berkumandang, Hassan menjadi imam shalat, sedangkan Natsir (dan kawan-kawan) makmum di belakangnya.

Di bawah bimbingan ulama Persis itu, Natsir tekun mendalami agama Islam. Diimbaunya juga kepada sesama aktivis JIB Bandung agar secara khusus menggelar semacam kursus untuk mengejar ketertinggalan mereka dalam bidang ilmu-ilmu agama.

Dari macam-macam topik, Natsir tertarik pada persoalan kaum orientalis dalam memandang Islam. Hassan sebagai gurunya lantas meminjamkan kepadanya banyak buku.

Selain yang membahas orientalisme, ada pula Alquran yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Muhammad Ali dan kitab Tafsir al-Furqan tulisan Hassan sendiri.

Hassan juga meminjamkan kepada Natsir karya-karya Muhammad Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh. Mereka adalah pencetus ide modernisme Islam yang banyak memengaruhi diskursus generasi Muslim sedunia pada masa transisi, akhir abad ke-19 menuju awal abad ke-20.

Dengan begitu, Natsir dapat diluaskan cakrawala berpikirnya, tidak melulu hitam-putih dalam memandang suatu persoalan keumatan.

Baca juga: A Hassan: Guru Pak Natsir, Kawan Debat Bung Karno (4)

 

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA