Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Mengapa Suhu Udara Dingin Bisa Mematikan?

Ahad 03 Feb 2019 15:40 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Ani Nursalikah

Seorang pria di Kota Polk, Wisconsin, 31 Januari 2019. Midwest di AS emngalami suhu dingin ekstrem.

Seorang pria di Kota Polk, Wisconsin, 31 Januari 2019. Midwest di AS emngalami suhu dingin ekstrem.

Foto: John Ehlke/West Bend Daily News via AP
Jari tangan dan kaki rentan terhadap radang dingin karena aliran darah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pekan ini, beragam portal media memberitakan suhu ekstrim yang melanda beberapa bagian Amerika Serikat akibat fenomena polar vortex atau pusaran kutub. Suhu udara di Minneapolis dua hari lalu misalnya, dilaporkan mencapai minus 51 derajat Fahrenheit atau sekitar minus 46,1 derajat Celsius.

Dalam kondisi dingin yang membekukan ini, ada risiko membahayakan jiwa yang mungkin terjadi. Beberapa di antaranya adalah frostbite (radang dingin) dan hipotermia. Frostbite merupakan kondisi di mana kulit dan jaringan tisu di bawahnya membeku. Sedangkan hipotermia merupakan kondisi di mana suhu inti tubuh menurun menjadi 35 derajat Celsius ke bawah.

Namun satu hal yang jarang disadari, kematian akibat suhu udara dingin juga bisa terjadi meski tubuh manusia tidak membeku. Sebagai contoh, kondisi hipotermia juga bisa terjadi pada suhu udara yang dingin, namun tidak membekukan seperti pada suhu minus satu derajat Celsius sampai 10 derajat Celsius. Pada suhu ini, hipotermia bisa terjadi bila tubuh dalam keadaan basah karena suhu tubuh bisa menurun sekitar 25 kali lebih cepat ketika tubuh berada di dalam air daripada di udara.

Penurunan suhu tubuh dapat menghambat organ-organ penting bekerja dengan baik. Bila fungsi kerja jantung terganggu misalnya, aliran darah ke banyak organ akan menurun hingga membuat tubuh menjadi syok. Kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko seperti kegagalan organ hati dan gagal ginjal.

Orang-orang dengan usia yang sangat muda atau sangat tua merupakan kelompok yang paling berisiko terhadap hipotermia. Alasannya, kedua kelompok ini memiliki otot jantung yang lebih lemah.

Orang lanjut usia juga kemungkinan mengonsumsi obat-obatan yang memperlambat laju jantung seperti beta blockers. Hal ini dapat meningkatkan risiko hipotermia ketika mereka berada dalam suhu udara dingin.

Kondisi hipotermia yang dibiarkan dapat menyebabkan terjadinya beragam hal berbahaya. Beberapa kemungkinan yang dapat terjadi adalah gagal jantung total dan bahkan kematian.

Bila hipotermia pada orang sehat lebih sering terjadi ketika suhu udara ekstrem, frostbite lebih sering terjadi pada suhu udara yang tidak begitu ekstrem. Namun, frostbite tidak bisa terjadi ketika suhu udara di atas 0 derajat Celsius.

Jari tangan dan kaki rentan terhadap radang dingin karena aliran darah di area-area ini akan berkurang pada suhu udara yang dingin. Meski kaki terlindungi sepatu, suhu udara yang dingin dapat membuat suhu jari kaki menjadi sangat rendah. Keringat yang keluar dari tubuh pun dapat semakin mengurangi suhu di area jari-jari ini.

Seperti dilansir Live Science, tubuh manusia sebenarnya memiliki mekanisme perlindungan diri dari kondisi dingin. Sesaat setelah udara dingin menyentuh area wajah, tubuh akan menyekat diri sendiri dengan memindahkan darah dari kulit atau area luar lain seperti jari kaki dan tangan ke area inti tubuh. Proses ini dikenal dengan nama vasokonstriksi.

"Ini membantu membatasi jumlah panas yang Anda lepas ke lingkungan," jawab John Castellani dari USARIEM.

Tubuh juga memiliki mekanisme perlindungan diri lain ketika menghadapi kondisi dingin, yaitu menggigil. Menggigil sebenarnya berfungsi memproduksi panas dan membantu tubuh meningkatkan suhu tubuh.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA