Tuesday, 8 Ramadhan 1442 / 20 April 2021

Tuesday, 8 Ramadhan 1442 / 20 April 2021

Ilmuwan Temukan Kode Bunuh Kanker Tanpa Kemoterapi

Selasa 29 Jan 2019 21:33 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Kemoterapi Omni

Kemoterapi Omni

Foto: Antara
Ilmuwan menyebut butuh waktu untuk bisa menerapkan temuan itu ke pasien kanker

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kemoterapi bisa dibilang masih menjadi cara efektif sejauh ini untuk membunuh sel kanker secara bertahap. Namun kini para peneliti di Northwestern telah menemukan "kode pembunuh" genetik yang memungkinkan penghancuran sel kanker tanpa kemoterapi.

Terapi baru "hilir" kemoterapi ini disebut dapat menghancurkan sel-sel kanker tanpa mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Diterbitkan dalam jurnal Nature Communications, peneliti di Northwestern menyampaikan vagian tersulit dari penelitian kanker sejauh ini telah menemukan cara untuk menghancurkan sel-sel kanker tanpa mempengaruhi sisa jaringan tubuh. 

Pada 2017, sebuah tim yang dipimpin oleh Marcus E Peter, seorang profesor di Sekolah Kedokteran Feinberg di Northwestern, menemukan bahwa setiap sel dalam tubuh memiliki kode unik yang dapat memicu kematian sel. Namun, timnya tidak mengerti cara mengaktifkan kode itu.

Menurut penelitian baru, kode tersedia sebagai informasi dalam asam ribonukleat, atau RNA, dan microRNA. Molekul RNA kecil dapat secara efektif membunuh sel kanker, suatu proses kemoterapi yang dimaksudkan untuk mengaktifkan kode. 

Tim menguji metode ini pada empat garis sel, dua manusia dan dua tikus, dengan mengidentifikasi lebih dari 700 target yang mengarah pada proliferasi sel kanker. Mereka menemukan bahwa obat kemoterapi membunuh sel kanker sebagian dengan memicu pelepasan mekanisme toksik, menghasilkan pelepasan miRNA penekan tumor. 

"Sekarang kita tahu kode membunuh sel kanker, kita dapat memicu mekanismenya tanpa harus menggunakan kemoterapi dan tanpa mengacaukan genomnya . Tujuanku bukanlah membuat zat beracun buatan yang baru. Aku ingin mengikuti jejak alami. Aku ingin memanfaatkan mekanisme yang dikembangkan alam," kata Peter, dilansir Big Think.

Sayangnya, cara ini sepertinya baru bisa diterapkan  bertahun-tahun lagi. Tim belum melakukan uji coba hewan tunggal. Peter berharap untuk mengubah pengetahuan ini menjadi "bentuk terapi baru." Salah satu masalah utama kemoterapi, Peter mengatakan, adalah karena memicu pelepasan RNA toksik, akibatnya kanker sekunder dapat terjadi. Terapi potensial baru yang dikembangkan timnya adalah "hilir" kemo dan dapat menghindari efek samping dari menghancurkan seluruh sistem kekebalan tubuh.

Kemoterapi selama ini dipahami bisa melumpuhkan sumsum tulang, yang mengarah pada jumlah sel darah merah dan putih serta platelet yang lebih rendah. Ini menghasilkan depresi pada sistem kekebalan tubuh seiring penghentian pertumbuhan sel kanker. Akan banyak sel penting yang juga rusak, tertekan, atau hancur. Pada kanker yang sangat agresif, sel-sel batang sumsum tulang harus diganti.

Meskipun tidak ideal, kemo efektif untuk banyak orang. Miliaran dolar dihabiskan setiap tahun guna mencari cara yang lebih baik untuk memerangi penyakit ini. Namun, sepertinya kemoterapi bisa jadi hanya akan menjadi masa lalu, tinggap menunggu waktu saja.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA