Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Rencana PHK di Tesco Perdalam Krisis Ritel di Eropa

Senin 28 Jan 2019 13:55 WIB

Rep: Adinda Pryanka / Red: Friska Yolanda

Tesco

Tesco

Foto: BBC
Krisis ritel Eropa memangkas ribuan pekerjaan karena pembeli beralih belanja online.

REPUBLIKA.CO.ID, MANCHESTER -- Perusahaan ritel besar di Inggris, Tesco, sudah menyelesaikan rencana pemangkasan pekerjaan. Perseroan juga berencana menutup sejumlah gerai makanan dan toko roti.

Dilansir di BBC, Senin (28/1), dilaporkan bahwa supermarket Tesco akan memutus hubungan pekerjaan terhadap 15 ribu karyawan. Dalam email internal perusahaan yang dilihat BBC, kepala operasional mengatakan, rencana tersebut masih dalam tahap penyelesaian. Ia juga mengakui, perubahan apapun akan sulit bagi mereka yang terkena dampak. Ia berjanji akan memebrikan lebih banyak informasi di kemudian hari.

Diketahui, sudah lebih dari 10 ribu pekerja yang mendapat pemutusan hubungan kerja (PHK) sejak Dave Lewis mengambil alih perusahaan sebagai direktur eksekutif pada 2014. Toko bahan makanan terbesar di Inggris itu berada di tengah upaya penghematan 1,5 miliar poundsterling karena persaingan antarsupermarket yang meningkat.

Menurut Daily Mail pada Ahad (27/1), perencaanaan PHK akan mempengaruhi mayoritas dari 732 toko Tesco berukuran besar. Risiko juga akan dirasakan pada counter daging, ikan dan makanan.

Menurut surat kabar ini, Tesco juga mempertimbangkan perombakan toko roti di toko, yakni menjual produk jadi, bukan dari adonan segar. Selain itu, perusahaan juga akan mengganti staf kantin di beberapa toko dengan mesin penjual otomatis. 

photo
Debenhams.
Detail mengenai PHK dan perubahan konsep di Tesco diprediksi akan rilis pada pekan ini. Tesco sendiri masih menolak mengomentari klaim ini dengan hanya mengatakan pihaknya akan selalu mencari cara untuk menjalankan bisnis mereka secara lebih sederhana dan efisien.

Namun, dalam memo kepada staf, Chief Operating Officer Tony Hogget mengakui spekulasi media. "Kami berkomitmen untuk memberi tahu kolega kami terlebih dahulu tentang tiap perubahan yang kami lakukan saat ini untuk menyederhanakan cara kami melayani pelanggan di toko kami," ucapnya kepada para karyawan.

Hogget juga menyampaikan, direksi masih menyelesaikan konsep perubahan ini. Namun, sebagai akibat dari kebocoran informasi dan spekulasi media, direksi akan mengedepankan komunikasi untuk memberikan lebih banyak informasi secepat mungkin.

Dalam memo tersebut, Hogget menyampaikan, pihak direksi menyadari, perubahan apapun akan menyulitkan kolega yang terkena dampak dan mengganggu semua orang. "Prioritas kami adalah mendukung semua rekan kerja kami," tuturnya.

Serikat pekerja utama yang mewakiliki staf Tesco, Usdaw, menyebutkan bahwa spekulasi media memberikan tekanan besar pada pekerja. Salah satu national officer Usdaw, Pauline Foulkes, menilai, kondisi yang dialami para pekerja Tesco saat ini terbilang mengerikan. Sebab, mereka harus mendengar mengenai masa depan pekerjaan mereka melalui spekulasi media yang beredar saat ini.

Foulker mengatakan, Usdaw terus berupaya meminta direksi untuk mengklarifikasi situasi. Mereka harus menjelaskan rincian perubahan yang mereka usulkan dan dampaknya terhadap staf. "Prioritas kami adalah menekankan pada Tesco untuk mengonfirmasi rincian perubahan yang diajukan untuk menghentikan spekulasi lebih lanjut," tuturnya.

photo
Galeria Kaufhof.
Krisis ritel Eropa semakin dalam di saat perusahaan-perusahaan Inggris hingga Jerman memangkas ribuan pekerjaan karena konsep berbelanja online. Selain Tesco, department store Galeria Kaufhaof akan memangkas sekitar 2.600 pekerjaan. Kabar ini muncul pada Jumat (25/1), bersamaan dengan perusahaan mode Jerman, Gerry Weber International AG, mulai mengalami pailit.

Dilansir Japan Times, Senin (28/1), pergeseran dari belanja offline ke online dinilai memperlambat pertumbuhan ekonomi dan rasa tidak aman di Inggris setelah keluar dari Uni Eropa. Di Inggris, kekhawatiran akan masa depan pengecer terus terjadi. Salah satunya pada Debenhams PLC yang sedang dalam pembicaraan dengan pemberi pinjaman karena utang sekitar 300 juta pounds yang akan jatuh tempo pada tahun depan.

Di Jerman, Galeria Kaufhauf membutuhkan restrukturisasi komprehensif untuk memnagkas biaya. Sementara itu, Gerry Weber yang mengoperasikan lebih dari 1.200 toko di 60 negara telah melaporkan kerugian setahun penuh sebelum bunga dan pajak dalam hampir tiga dekade pada Oktober 2018. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA