Tuesday, 18 Rajab 1442 / 02 March 2021

Tuesday, 18 Rajab 1442 / 02 March 2021

Pernahkah Anda Lakukan Gaslighting ke Anak?

Sabtu 26 Jan 2019 06:43 WIB

Rep: Christiyaningsih/ Red: Indira Rezkisari

Ibu muda dan anak-anaknya.

Ibu muda dan anak-anaknya.

Foto: Republika/Prayogi
Pengasuhan dengan empati akan membuat anak merasa nyaman dengan dirinya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pernahkah sebagai orang tua Anda melakukan gaslighting pada anak? Gaslighting adalah bentuk manipulasi psikologi dengan melakukan kekerasan mental pada orang lain. Karena menerima tindakan gaslighting, seseorang jadi meragukan diri sendiri atau mempertanyakan hal yang ia alami.

Saat ini masih belum banyak analisis yang mengulas efek gaslighting dalam hubungan orang tua dan anak. Padahal, perlakuan gaslighting bisa menimbulkan trauma pada anak. Beberapa studi menyebut trauma itu akan menimbulkan efek jangka panjang.

Dikutip dari Indian Express, studi dari Flinders University Australia pada 2018 menyatakan gaslighting bisa terjadi dalam hubungan orang tua dan anak. "Praktik gaslighting sering tidak terlihat dan tidak terdeteksi terutama dalam relasi orang tua dan anak di mana ketidakseimbangan kekuasaan sering dianggap sebagai norma biasa," ungkap penulis Damien W. Riggs dan Clare Bartholomaeus.

Salah satu contoh gaslighting misalnya pada kasus anak yang jatuh saat bermain dengan teman-temannya. Anak tersebut memang tidak luka parah namun ia menangis lalu berlari menuju orang tuanya.

Namun sang ibu justru mengatakan anaknya tidak sakit apa-apa dan menyuruh si anak agar lebih kuat. Akhirnya si anak kembali bermain bersama teman-temannya tapi dengan perasaan terluka dan merasa tidak dicintai.

Psikolog dan konselor Pulkit Sharma mengatakan orang tua di India kerap mengutarakan kalimat kepada anak dengan perspektif dan emosi orang dewasa. Pesan yang disampaikan dengan cara itu membuat anak merasa dirinya terlalu sensitif, lemah, atau tidak normal. "Ini bisa menjadi traumatik bagi anak dan mereka harus menanggung efek sampingnya," kata Pulkit.

"Kita perlu memosisikan diri dalam sudut pandang anak-anak. Lihatlah kehidupan dalam perspektif mereka dan pahamilah bagaimana mereka melihat dunia," lanjut Pulkit. Pada kasus seperti di atas, akan lebih baik jika orang tua menerima aduan sang anak yang sedang sakit karena terjatuh atau nenangis karena mainannya diambil teman.

"Oh itu buruk. Ayo kita minta kembali mainan dari temanmu," demikian Pulkit mencontohkan. Kalimat demikian adalah strategi yang lebih efektif karena orang tua menunjukkan penerimaan terhadap aduan dan belajar menanamkan keyakinan pada anak.

Tentang bagaimana seharusnya orang tua memperlakukan anak yang rapuh, Pulkit menyarankan agar menerapkan empati. "Kita bisa mencegah trauma anak dengan pengasuhan empati dan pengajaran di masa kecil. Pada akhirnya kekuatan anak akan terbangun sehingga mereka bisa melawan semua gangguan," ujarnya.



BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA