Friday, 15 Zulqaidah 1442 / 25 June 2021

Friday, 15 Zulqaidah 1442 / 25 June 2021

Lipsus Jenderal Soedirman

Kepanduan Muhammadiyah Membentuk Karakter Jenderal Soedirman

Kamis 24 Jan 2019 13:38 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Jenderal Besar Soedirman.

Jenderal Besar Soedirman.

Foto: IST
KH Ahmad Dahlan ingin kader Muhammadiyah

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Stevy Maradona

Di dalam setiap penulisan riwayat hidup Soedirman, selalu terselip soal babak ia masuk kepanduan Muhammadiyah, Hisbul Wathan, pada awal 1930-an. Sedianya babak hidup Soedirman yang ini menjadi amat menarik. Karena gerakan kepanduan di Indonesia di awal abad ke-20 ternyata memiliki muatan politis nasionalisme yang kental. Karena itu, tidak berlebihan kiranya kalau kita menyebut babak kepanduan Hisbul Wathan ini adalah salah satu faktor yang membentuk karakter nasionalisme Soedirman.

Kepanduan di Indonesia dibawa dua tokoh penjajah Belanda, PJ Smith dan Mayor de Jager, pada 1913-1914. Tujuan mereka saat itu untuk melatih anak-remaja Belanda usia 12-18 tahun menjadi warga negara yang baik, disiplin, berkarakter bela Ratu Belanda, bela tanah air Belanda, gemar menolong, cinta lingkungan. Organisasi pandu awal diberi nama Nederlandsche-Indische Padvindersvereeniging (NIPV).

Baca Juga: Latar Muda Jadi Panglima

Dalam tulisannya yang merangkum gerakan kepanduan di Indonesia, "Padvinders, Pandu, Pramuka: Youth and State in the 20th Century Indonesia (2011)" pengajar antropologi UGM Pujo Semedi mengatakan, ada perbedaan yang mencolok soal latar sosial kepanduan di Indonesia saat itu dengan di Eropa. Kepanduan di Eropa menyeruak di tengah situasi antarnegara saling perang dan generasi muda yang gamang bin galau menghadapi hidup di tengah perang.

Sementara di Indonesia, terutama di tingkat lokal nanti akan terlihat, kepanduan justru amat kental dibayangi atmosfer kebangkitan nasional dan perlawanan melawan penjajah Belanda. Dari kepanduan gaya Belanda ini, tokoh-tokoh nasional saat itu melihat ada kesempatan yang baik untuk menanamkan nilai-nilai awal nasionalisme ke generasi muda prakemerdekaan.

Lahirlah Javaansche Padvinders Organisatie (JPO) pada 1916. Yang memelopori adalah Pangeran Mangkunegara VII di Surakarta. Sesuai dengan namanya, setiap anggota pandu JPO harus setia kepada keraton, kepada Sri Sultan, dan kepada Tanah Jawa. Anggota JPO saat itu terbatas di lingkaran keraton. Saban Ahad mereka dijadwalkan berlatih di halaman depan keraton. Latihannya mencakup baris-berbaris, pertolongan kecelakaan, tali-temali, membaca peta, dan kepanduan dasar lainnya. Para pandu anak-remaja yang diberi seragam itu berlatih terbuka, dapat dilihat oleh warga yang lalu lalang di depan pagar keraton.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA