Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Malaysia Minta Goldman Sachs Bayar Kompensasi Kasus 1MDB

Jumat 18 Jan 2019 17:20 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Goldman Sachs

Goldman Sachs

Foto: understory.ran.org
Menteri Keuangan Malaysia minta kompensasi 7,5 dolar AS.

REPUBLIKA.CO.ID, PUTRA JAYA -- Menteri Keuangan Malaysia Lim Guan Eng mengatakan permohonan maaf Goldman Sachs  atas peran mereka dalam pencurian miliaran dolar AS melalui 1Malaysia Development Berhad (1MDB) tidaklah cukup. Lim mengatakan Goldman Sachs juga harus membayar kompensasi sebesar 7,5 dolar AS.

"Itu tidak cukup, diperlukan tapi tidak cukup, minta maaf dengan 7,5 miliar dolar AS itu yang penting, harus ada pertanggungan jawabannya," kata Lim, Jumat (18/1).

Pada Rabu (16/1) lalu CEO Goldman Sachs David Solomon meminta maaf kepada rakyat Malaysia atas peran mantan bankir mereka Tim Leissner dalam mengatur penjualan obligasi 1MDB. Leissner menyediakan sarana kepada rekan-rekan mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak untuk mencuri uang selama beberapa tahun dari 1MDB.

Solomon mengatakan bank investasinya melakukan pemeriksaan dengan hati-hati. Tapi, mereka disesatkan oleh Leissner dan mantan pejabat-pejabat pemerintah Malaysia.

1MDB bertujuan untuk mendorong inisiatif strategis untuk pembangunan ekonomi jangka panjang. Perusahaan milik pemerintah Malaysia ini didirikan Najib ketika ia mulai berkuasa pada tahun 2009. Namun, perusahaan tersebut justru terlilit utang miliar dolar AS dan diselidiki di beberapa negara termasuk Amerika Serikat (AS).

Skandal itu membuat Najib kalah telak dalam pemilihan perdana menteri bulan Mei 2018 lalu. Pemerintahan Malaysia yang baru mengajukan tuntutan terhadap Goldman Sachs, Leissner, dan mantan ekskutif Goldman Sachs lainnya yaitu Roger Ng Chong Hwa.

Pejabat Malaysia mengatakan pemerintah mereka ingin mendapatkan beberapa miliar dolar AS dari Goldman Sachs melalui denda atas pelanggaran hukum dan keterlibatan mereka dalam menyesatkan investor. Jaksa Agung Malaysia Tommy Thomas mengatakan sebanyak 2,7 miliar dolar AS dicuri dari penjualan obligasi yang diatur oleh anak perusahaan Goldman Sachs.

Bank investasi itupun menerima 600 juta dolar AS sebagai komisinya. Tommy menuduh Leissner dan Ng bersekongkol dengan rekan Najib yakni Low Taek Jho memaksa pejabat Malaysia untuk memilih Goldman Sachs mengatur penjualan obligasi. Sebab, sejak awal mereka sudah tahu uangnya bisa mereka curi.

Pada tahun lalu, pengadilan AS sudah memutuskan Leissner bersalah dalam kasus tersebut. Ia didakwa atas kejahatahan pencucian uang dan berkomplot untuk melanggar hukum di luar negeri. Ng juga sudah ditangkap di Malaysia pada awal November 2018 lalu.

Low yang juga dikenal sebagai Jho Low masih jadi buronan. Dalam pernyataan yang ia sampaikan melalui pengacarannya ia menyatakan dirinya tidak bersalah.

Dalam skandal itu, Najib akan menghadapi beberapa tuntutan korupsi. Ia mengaku uang sekitar 700 juta dolar AS yang masuk ke rekeningnya berasal dari Keluarga Kerajaan Arab Saudi. Tapi jaksa di AS menemukan uang tersebut berasal dari 1MDB.

Pengajuan tuntutan hukum yang menjadi kasus Departemen Kehakiman AS dalam mengembalikan aset yang dibeli dari dana 1MDB menemukan uang yang dicuri dari rakyat Malaysia itu digunakan untuk membiayai film Hollywood. Uang tersebut juga digunakan untuk membeli perhiasan berlian istri Najib, kapal mewah, benda-benda seni, dan properti mahal.

Menteri Keuangan Malaysia Lim mengatakan pemerintah Malaysia masih bersedia untuk berdiskusi jika Goldman Sachs mau membayar uang yang mereka minta. Hal ini ia katakan usai menunjuk tiga bank mengatur samurai bond atau obligasi Jepang senilai 1,9 miliar dolar AS yang didukung pemerintah Jepang untuk meringankan beban pemerintah Malaysia.

Pemerintah Malaysia mengatakan mereka setidaknya membutuh waktu tiga tahun untuk menyelesaikan utang sebesar 243 miliar dolar AS. Sebagian besar utang tersebut berkaitan dengan skandal 1MDB.

sumber : AP
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA