Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Limbah Plastik Membahayakan Kesehatan

Kamis 17 Jan 2019 03:47 WIB

Rep: Bayu Adji P, Rizky Suryarandika/ Red: Reiny Dwinanda

Sejumlah warga memilah limbah plastik dari tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (10/1/2019).

Sejumlah warga memilah limbah plastik dari tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (10/1/2019).

Foto: Antara/Aditya Pradana Putra
Bisa jadi, hidangan di meja makan kita pun sudah tercemar mikroplastik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr Imran Agus Nurali mengingatkan limbah plastik tak hanya memiliki dampak buruk bagi lingkungan, tetapi juga untuk kesehatan tubuh. Sifat plastik yang sulit terurai berpotensi menyebabkan terjadinya penimbunan limbah, menyumbat saluran air, dan banjir, dan ujungnya akan mencemari lingkungan.

Imran mengakui, plastik memang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, limbahnya berpotensi membahayakan kesehatan lingkungan dan tubuh makhluk hidup.

"Plastik akan mempengaruhi kesehatan tubuh manusia kalau tertimbun di tanah atau air,” kata dia dalam keterangan resminya, Rabu (16/1).

Tak hanya itu, dampak berbahaya limbah plastik akan melanda tanaman di darat dan biota air. Imran mencontohkan, mikroplastik yang terkandung di dalam air akan langsung masuk ke dalam organ tubuh ikan.

Lama-kelamaan, ikan yang terpapar mikroplastik tidak akan bertahan hidup. Sementara itu, kalau ikan tersebut terjaring nelayan dan kemudian dikonsumsi masyarkat maka kesehatan manusia pun bisa terpengaruh.

“Saat terkena panas matahari atau terbakar, mikroplastik pun dapat terhirup. Kalau dibakar saja, plastik bisa menghasilkan zat karbon monoksida yang bahaya untuk kesehatan,” jelas dia.

Meski demikian, Imran mengakui, hingga saat ini belum ada kajian ambang batas kandungan mikroplastik yang dapat membahayakan kesehatan makhluk hidup. Namun, ia mengimbau masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik.

Menurut Imran, kesadaran masyarakat dalam menggunakan plastik lebih berperan daripada kebijakan tanpa kesadaran. Masyarakat bisa memupuk kesadaran diet plastik dengan mengurangi penggunaan kantong plastik saat berbelanja dan membawa botol minum.

"Kalau bisa dibatasi, kita gunakan tas belanja sendiri supaya tidak menambah produksi plastik,” kata dia.

Peneliti mikroplastik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Muhammad Reza Cordova telah mengingatkan agar masyarakat tak membuang sampah ke laut. Dampaknya bisa kembali pada manusia itu sendiri, terlebih sampah berupa mikroplastik dengan ukuran amat kecil.

Reza menyebut ada dua sumber mikroplastik yang berukuran kurang dari lima milimeter. Pertama, memang sudah kecil ukurannya saat berada di laut. Kedua, ukuran sampah plastiknya menyusut di laut karena pengaruh cuaca dan arus. Untuk tahap awal, dampak mikroplastik merusak pencernaan biota laut.

Dampak luasnya mengganggu saluran pencernaan biota yang kecil dan menjadi media penempelan polutan lain, seperti logam berat atau bakteri berbahaya. Ketika dimakan biota kecil, seperti ikan, plastik walaupun teksturnya lembek akan merusak organ.

Pada tahap selanjutnya, dampak mikroplastik akan menyentuh manusia, yaitu saat ikan yang memakan mikroplastik dikonsumsi manusia. Ia mengatakan, semua yang dibuang manusia ke alam kemungkinan bisa berakhir di perut binatang atau di meja makan.

"Jangan sampai kita makan plastik akibat ulah kita sendiri," ujarnya ketika dihubungi Republika.co.id pada Kamis (22/11/2018).

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA