Wednesday, 15 Safar 1443 / 22 September 2021

Wednesday, 15 Safar 1443 / 22 September 2021

Sistem Umur Korsel ‘yang Membingungkan’ Diusulkan Diubah

Ahad 06 Jan 2019 03:34 WIB

Red: Ratna Puspita

Penyanyi Korea Selatan Psy, yang lahir pada 31 Desember 1977, berusia 43 tahun ketika memasuki tahun 2019 berdasarkan perhitungan usia Korea Selatan.

Penyanyi Korea Selatan Psy, yang lahir pada 31 Desember 1977, berusia 43 tahun ketika memasuki tahun 2019 berdasarkan perhitungan usia Korea Selatan.

Foto: Soompi
Pada perhitungan umur Korea, bayi berusia satu tahun saat lahir.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Anggota Parlemen Korea Selatan dari Partai untuk Demokrasi dan Perdamaian Hwang Ju-hong mengusulkan agar parlemen membuat undang-undang baru yang memberlakukan sistem umur internasional pada 3 Januari lalu. Undang-undang ini nantinya akan menghapus sistem perhitungan tradisional yang berlaku selama ini. 

Sejumlah laman Korea Selatan seperti Insight dan Yonhap, dilansir Soompi pada Sabtu (5/1), melaporkan Hwang mengusulkan dokumen resmi mencatat usia sejak tanggal kelahiran dan jumlah bulan jika satu tahun penuh belum berlalu. Ia juga meminta agar metode perhitungan usia internasional digunakan dalam keseharian masyarakat Korea Selatam. 

“Sudah lama ada kritik terkait perhitungan usia tradisional, di mana seseorang dianggap berusia satu tahun saat lahir dan menjadi satu tahun lebih tua setiap tahun baru [pada 1 Januari]. Sebab, perhitungan tradisional sangat berbeda dari perhitungan umur yang umumnya digunakan secara internasional,” kata Hwang. 

Menurut Hwang, masih berlakunya sistem perhitungan umur tradisional ini membuat adanya dua sistem menghitung umur. Pada perhitungan sehari-hari, Korea menggunakan metode penghitungan tradisional.

Sementara perhitungan usia dalam dokumen tergantung pada lokasi dokumen tersebut digunakan. Jika berada di Korea Selatan maka menggunakan perhitungan tradisional. Ketika warga Korea Selatan berada di luar negeri maka menggunakan perhitungan internasional. 

Dia menerangkan metode perhitungan usia tradisional ini juga sudah ditinggalkan oleh negara Asia Timur lainnya, yakni Jepang dan Cina. “Korea adalah satu-satunya yang masih menggunakannya bersamaan dengan metode lain. Untuk mencegah kebingungan dan ketidaknyamanan, ada kebutuhan untuk menyatukan sistem perhitungan usia kita,” kata dia. 

Perhitungan usia orang Korea

Laman Korea Times menjelaskan, metode perhitungan ini berasal di Cina berabad-abad yang lalu dan pernah digunakan oleh beberapa negara di wilayah ini, termasuk Jepang. Pada perhitungan ini, ada tiga hal yang penting. 

Pertama, setiap orang berusia satu tahun saat lahir. Pada usia yang berlaku internasional, bayi yang baru lahir dihitung berusia 0 tahun.

Kedua, semua orang Korea secara otomatis berusia setahun lebih tua ketika memasuki tahun baru. Sebagai contoh, Soompi menjelaskan, penyanyi Korea Selatan Psy lahir pada 31 Desember 1977.

Pada 30 Desember 2018, berdasarkan perhitungan internasional, Psy berusia 41 tahun. Akan tetapi, tidak demikian bagi Korea. Berdasarkan perhitungan usia Korea, Psy berusia 42 tahun pada hari kelahirannya. Ketika memasuki tahun 2019, Psy berusia 43 tahun. 

Pada usulannya, Hwang juga meminta agar perhitungan internasional digunakan dalam keseharian. Hal ini terkait dengan sistem hierarki di Korea Selatan, yang menyangkut cara berbicara dan panggilan. 

Terkait hal ini, kebiasaan masyarakat Korea Selatan mempertimbangkan mereka yang lahir pada Januari atau Februari berada pada usia yang sama dengan mereka yang lahir pada tahun sebelumnya. 

Misalnya, pemimpin boy group Korea Selatan Got7, JB, lahir pada 6 Januari 1994. JB lahir lebih cepat 3,5 bulan dibandingkan anggota Got7 lainnya, Jackson Wang, yang lahir pada 28 Maret 1994.

Kendati demikian, kebiasaan masyarakat di Korea Selatan menganggap JB lebih tua satu tahun dibandingkan Jackson. Dengan demikian, Jackson harus memanggil JB dengan sebutan hyung atau kakak laki-laki. 

Diprotes

Soompi melaporkan beberapa warga Korea telah memprotes gagasan itu secara online. Mereka umumnya menyatakan sistem baru, jika disetujui, akan memengaruhi masalah hierarki dan bahasa formal di masyarakat.

Korea Times juga melaporkan ribuan orang telah menandatangani petisi mendukung metode perhitungan usia internasional melalui laman di Korea Selatan. Akan tetapi, banyak yang tidak sepakat. 

Menurut sebuah survei tahun lalu, 68,1 persen responden mengatakan mereka lebih suka menggunakan sistem usia internasional. Sementara, 31,9 persen mengatakan mereka lebih suka mempertahankan kedua sistem.

Alasannya serupa, yakni budaya Korea Selatan menjadikan usia sebagai salah satu faktor penting untuk mendefinisikan hierarki dan hubungan dengan anggota masyarakat lainnya. Metode tradisional yang dapat diterima dan umum terbukti lebih tangguh.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA