Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

NU NTB Gelar Refleksi Akhir Tahun

Senin 31 Dec 2018 23:19 WIB

Rep: M Nursyamsi/ Red: Agung Sasongko

Pemprov NTB menggelar zikir akbar di halaman Kantor Pemprov NTB, Senin (31/12) malam.

Pemprov NTB menggelar zikir akbar di halaman Kantor Pemprov NTB, Senin (31/12) malam.

Foto: Republika/Muhammad Nursyamsi
Kegiatan doa dan zikir bersama juga dirangkaikan dengan diskusi refleksi akhir tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (NU) di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama civitas Universitas NU (UNU) NTB menggelar Haul KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan wafatnya TGH Ahmad Taqiuddin Mansur di aula kampus UNU NTB di Mataram, Senin (31/12).

Kegiatan doa dan zikir bersama juga dirangkaikan dengan diskusi refleksi akhir tahun. Dalam sambutannya, Rektor UNU NTB Baiq Muliana mengatakan, kegiatan tersebut digelar untuk memperkuat tali silahrurahim dan juga untuk mengenang sosok Gus Dur dan TGH Ahmad Taqiuddin Mansur.

Pemikiran dan hal-hal baik dari dua tokoh itu diharapkan bisa menginspirasi generasi muda saat ini. Selain itu kegiatan juga digelar untulk memberikan ruang refleksi akhir tahun bagi UNU NTB.

"UNU NTB yang sudah berdiri sejak tiga tahun lebih, mudah-mudahan kami tetap bisa berbuat dan mengabdi untuk NTB dan Indonesia dan memberikan keberkahan bagi masyarakat," kata Baiq Muliana.

Sekretaris PBNU NTB, Lalu Winengan mengatakan, TGH Ahmad Taqiuddin Mansur yang terakhir menjabat Ketua PWNU NTB merupakan sosok inspiratif bagi generasi muda NTB, khususnya pemuda NU.

"Dalam perjalanan banyak yang diajarkan oleh beliau (TGH Ahmad Taqiduddin Mansur). Beliau adalah ketua, orang tua, dan guru kita. Banyak yang dihasilkan beliau, dan ini juga jadi motivasi untuk kader muda NU," kata Winengan.

Winengan mengatakan, kegiatan itu sangat startegis untuk merefleksi apa yang sudah terjadi ada 2018 untuk menghadapi 2019. 2018, kata dia, bencana demi bencana terjadi di Indonesia, termasuk gempa Lombok yang terjadi pada Juli-Agustus 2018 lalu.

Menurut Winengan, moment doa dan zikir bersama itu menjadi moment untuk sama-sama memanjatkan doa agar alam bisa bersahabat dan tidak lagi ada bencana ke depannya.

"2018, bencana demi bencana di Indonesia. Gempa terpanjang 2018. Saat ini kita berdoa untuk Gus Dur dan TGH Taqiuddin, juga berdoa agar alam ini berhenti bencana," katanya.

Selain berdoa, Winengan juga berharap semua masyarakat untuk menginstrospeksi diri, dan memperbanyak beristigfar. Lebih banyak saling mendoakan dan saling memaafkan sesama umat manusia.

 

"Tahun politik ini jangan tambah panas. Kita beda pilihan saja sudah saling mengkafirkan. Ini yang tidak boleh. Kita harus lebih banyak istigfar, saling memaafkan, agar bumi initidak lagi bergetar," ucap Winengan.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Rosiady Sayuti. Rosiady mengatakan, Gus Dur dan TGH Ahmad Taqiuddin Mansur adalah sosok ulama yang sangat menginspirasi. Rosiady mengungkapkan, tanpa disadari kehidupan berbangsa saat ini banyak diwarisi oleh zaman pemerintahan Gus Dur.

"Reformasi total itu dimulai di zaman Gus Dur, di mana tentara yang dulu sangat kuat dan begitu hebat dengan dwi tunggalnya bisa diselesaikan dengan begitu damai ketika Gus Dur jadi presiden," kata Rosiady.

Begitu juga dengan pembangunan, otonomi daerah, dan desentralisasi yang saat ini ada dan bisa dinikmati, semua pangkalnya ada di zaman Gudur.

"Menurut saya beliau jenius, pemikiran beliau memembus batas. Sesuatu yang belum terpikir," kata Rosiady.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA