Monday, 17 Muharram 1444 / 15 August 2022

Peringatan Tsunami, BPBD Cilacap Gandeng Takmir Masjid

Rabu 26 Dec 2018 17:42 WIB

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Nashih Nashrullah

Kondisi Masjid Argam Bab Al Rahman atau masjid terapung di Pantai Talise, Palu pasca diguncang gempa dan diterjang tsunami pada 28 September 2018. Masjid ini juga dikenal dengan masjid kubah tujuh warana, putih, ungu, biro, orange, merah, hijau, kuning.

Kondisi Masjid Argam Bab Al Rahman atau masjid terapung di Pantai Talise, Palu pasca diguncang gempa dan diterjang tsunami pada 28 September 2018. Masjid ini juga dikenal dengan masjid kubah tujuh warana, putih, ungu, biro, orange, merah, hijau, kuning.

Foto: Republika/Umi Nur Fadhilah
Takmir masjid dilibatkan dalam menginformasikan sejak dini adanya tsunami.

REPUBLIKA.CO.ID, CILACAP – Masalah minimnya sistem peringatan dini (early warning system) tsunami, hampir terjadi di seluruh wilayah yang rawan bencana. Termasuk juga di Kabupaten Cilacap, yang pada 2006 pernah mengalami bencana serupa. 

Kepala Seksi alat peringatan dini tsunami BPBD Cilacap, Firman Baryadi, menyebutkan di sepanjang kawasan pantai Kabupaten Cilacap mulai dari kawasan Teluk Penyu hingga Pantai Jetis yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kebumen, saat ini sudah terpasang 53 alat EWS tsunami. 

''Jumlah ini, sebenarnya masih jauh dari kebutuhan,'' katanya, Rabu (26/12). 

Namun yang lebih memprihatinkan lagi, dari 53 EWS tersebut, yang saat ini masih bisa berfungsi normal hanya tinggal 24 unit. ''Lainnya, ada yang sudah mati total alias tidak berfungsi sama sekali. Ada juga yang masih berfungsi tapi sudah tidak normal,'' katanya. 

Dia menyebutkan, kerusakan EWS Tsunami tersebut umumnya disebabkan faktor korosi atau berkarat. Lokasi pemasangan EWS yang memang harus berada di bibir pantai, menyebabkan proses korosi berlangsung cepat. Korosi ini menyebabkan komponen yang ada dalam perangkat EWS tidak bisa lagi mengalirkan listrik. 

Sebagai langkah mitigasi bencana mengatasi masalah keterbatasan alat, Firman menyatakan, pihaknya telah menjalin kerjasama dengan takmir atau pengurus masjid/mushala yang memiliki pengeras suara. 

Melalui kerjasama ini, BPBD telah meminta para takmir masjid ikut memberikan peringatan dini tsunami melalui pengeras suara di masjid/mushalanya.  

Kepala BPBD Cilacap Tri Komara Sidhi, sebelumnya menyebutkan seluruh EWS tsunami yang terpasang di pantai wilayah Cilacap, dipasang pada tahun 2012-2013. Meski baru berumur 5-6 tahun, namun pemasangan EWS yang harus di bibir pantai menyebabkan peralatan tersebut cepat rusak akibat korosi.  

Dia menyebutkan, Pemkab Cilacap sebenarnya sudah menganggarkan biaya untuk perawatan EWS. Namun dia menyebutkan, biaya perawatan yang dianggarkan hanya  Rp 2 juta per tahun per unit, sehingga hanya cukup untuk melakukan perbaikan ringan. ''Sedangkan untuk melakukan pergantian unit, jelas tidak akan bisa,'' katanya.

Menurutnya, seluruh EWS yang terpasang di sepanjang garis pantai Cilacap, merupakan perangkat yang pengadaan dan pemasangan dilakukan oleh BNPB dan BMKG. 

''Informasi yang saya peroleh, harganya cukup mahal. Seperti EWS yang diadakan oleh BNPB, harganya mencapai sekitar Rp 500 juta per unit. Sedangkan untuk EWS yang diadakan oleh BMKG, harganya lebih mahal lagi,'' katanya.

Untuk itu, yang bisa dilakukan BPBD Cilacap saat ini hanya sebatas memberitahukan pada BNPB maupun BMKG mengenai kerusakan beberapa unit EWS tsunami. Namun hingga kini, belum pernah dilakukan penggantian terhadap EWS yang rusak.  

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA