Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

2019, Pengguna Internet Berharap Lebih pada Asisten Virtual

Sabtu 22 Dec 2018 07:01 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Indira Rezkisari

Wanita memegang ponselnya.

Wanita memegang ponselnya.

Foto: pixabay
Tuntutan perkembangan teknologi asisten virtual akan semakin meningkat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kehadiran asisten virtual semakin memudahkan manusia melakukan berbagai hal yang mereka butuhkan tanpa perlu repot mengerjakannya sendiri. Asisten virtual bisa membantu mengatur jadwal, melakukan pemesanan tiket pesawat, hingga memonitor kondisi kesehatan penggunanya.

Tidak hanya itu, tuntutan masyarakat akan perkembangan teknologi asisten virtual diperkirakan akan semakin meningkat di tahun-tahun mendatang. "Ketika perangkat pintar dengan asisten virtual semakin sering digunakan, pengguna bisa jadi akan lebih percaya pada perangkatnya dua kali lebih besar dari pada temannya sendiri," kata Customer Marketing Manager Ericsson, Thomas Vidorrekto.

Dalam laporan tren ConsumerLab yang dirilis secara tahunan, Ericsson mengungkapkan bahwa teknologi otonom dan teknologi yang dapat memprediksi suasana hati pengguna akan bisa memainkan peran lebih besar dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu masih ada sembilan isu seputar perkembangan asisten virtual lainnya yang diperkirakan mencuat di tahun 2019.

Awareables (lebih memahami)
Lebih dari 60 persen pengguna asisten virtual percaya bahwa perangkat yang bisa memahami suasana hati mereka akan menjadi mainstream dalam waktu tiga tahun ke depan. Artinya, asisten virtual bisa memberikan respon hanya dengan membaca intonasi bicara penggunanya.

Smart quarrels (Perdebatan Pintar)
Lebih dari 65 persen pengguna asisten virtual percaya bahwa smart speakers nantinya akan terlibat perdebatan antara anggota keluarga dalam tiga tahun ke depan

Spying apps (Aplikasi yang Memata-matai)
Lebih dari 45 persen konsumen percaya bahwa aplikasi yang mereka gunakan senantiasa mengumpulkan data tentang mereka bahkan saat mereka tidak menggunakan aplikasi tersebut.

Enforced agreement (Persetujuan yang dipaksakan)
Kehadiran cookies yang bertugas mengumpulkan data atau data collection cookies dirasa mengganggu oleh 51 persen konsumen.

Internet of skills
Lebih dari 50 persen pengguna AR atau VR menginginkan aplikasi, kacamata, dan sarung tangan yang bisa memberikan panduan virtual untuk tugas praktis sehari-hari seperti memasak atau memperbaiki sesuatu.

Zero-touch consumption
Kurang lebih setengah dari pengguna asisten virtual menginginkan tagihan dan langganan mereka bisa diperpanjang secara otomatis, selain persediaan kebutuhan rumah tangga yang bisa diisi ulang secara otomatis.

Mental obesity (Obesitas Mental)
Sebanyak 31 persen konsumen dalam waktu dekat akan pergi ke 'pusat kebugaran pikiran' (mind gym) untuk melatih kemampuan berpikirnya, karena pengambilan keputusan sehari-hari menjadi semakin otomatis.

Eco Me
Sebanyak 39 persen konsumen menginginkan eco-watch yang mengukur jejak karbon mereka.

My digital twin (Kembaran Digital)
Sekitar 48 persen pengguna AR atau VR menginginkan avatar online yang meniru mereka secara tepat, sehingga mereka dapat berada di dua tempat sekaligus.

5G automates society
Sekitar 20 persen pengguna smartphone percaya 5G akan menghubungkan perangkat IoT dengan lebih baik, seperti peralatan rumah tangga dan alat pengukuran utilitas.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA