Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Bagaimana Mengikis Perselisihan Mayoritas-Minoritas?

Kamis 20 Dec 2018 23:50 WIB

Rep: Muhammad Ikhwanuddin/ Red: Andi Nur Aminah

Keberagaman Agama (Ilustrasi)

Keberagaman Agama (Ilustrasi)

Foto: ipsgampang.blogspot.com
Perlu diperbanyak forum diskusi lintas pemikiran untuk saling memahami satu sama lain

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Isu perselisihan antara warga mayoritas dan minoritas kerap membuat sekat persaudaraan semakin tebal. Namun, saat warga hidup di lingkungan majemuk, perlu adanya solusi atas perselisihan tersebut.

Peneliti Social Policy and Human Rights Institute (Sophie), Heru Susetyo mengatakan, narasi tentang perselisihan berbau SARA disebabkan oleh kaum fundamentalis atau radikal merupakan hal yang keliru. Menurutnya, gesekan yang terjadi disebabkan oleh tertutupnya pola pikir satu pihak dalam menyikapi pihak lain yang berbeda pendapat.

Untuk itu, dia mengatakan, perlu diperbanyak forum diskusi lintas pemikiran untuk saling memahami satu sama lain. "Fundamentalis itu baik, tidak membuka ruang dialog yang menjadi persoalan," ujarnya di Cikini, Kamis (20/12).

Dosen Fakultas Hukum Universitas Indonesia itu menilai, fundamentalisme tidak melahirkan intoleransi. Namun, kepentingan ekonomi, politik, dan kesejahteraan yang bercampur dengan fundamentalisme itu yang menjadi sumber persoalan sebuah pertikaian. "Fundamentalisme kan kembali ke dasar suatu kepercayaan, fundamentalisme dalam ibadah, itu harus. Tapi dalam muamalah (interaksi sosial) itu harus fleksibel," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Humanitarian Leadership Academy Indonesia, Victor Rembeth menyampaikan, perlu ada pemahaman tentang radikalisme secara komprehensif. "Definisi radikal kan kembali ke akar, itu harus diselesaikan dahulu agar tidak jadi prasangka," kata dia, Kamis.

Sebagai seorang pendeta, ia berharap masyarakat Indonesia lebih sering untuk berdialog bersama membicarakan kerukunan dalam keberagaman. Menurutnya, persoalan fundamentalisme atau radikalisme harus diselesaikan bersama dengan kepala dingin.

"Mari fundamental dalam beribadah, lakukan ibadah yang terbaik. Karena semua agama itu tidak sama, semua agama itu unik. Untuk itulah kita harus duduk bersama," ucapnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA