Tuesday, 14 Safar 1443 / 21 September 2021

Tuesday, 14 Safar 1443 / 21 September 2021

Salafi yang Punya Pengikut di Indonesia Menurut GP Ansor

Sabtu 01 Dec 2018 00:46 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Andri Saubani

[ilustrasi] Kelompok Salafi Yordania ketika turun ke jalan.

[ilustrasi] Kelompok Salafi Yordania ketika turun ke jalan.

Foto: Al-Jazirah
Ada tiga jenis salafi yang pengaruhnya ada di Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rumah Demokrasi bekerj asama dengan Institut Demokrasi Republikan (ID-Republikan) menggelar seminar nasional bertema "Muslim Millennial: Menguatnya Radikalisme dan Tantangan Wawasan Kebangsaan". Dalam seminar tersebut Kepala Bidang Kajian Strategis GP Ansor, Mohammad Nuruzzaman menjelaskan tiga jenis salafi di antaranya salafi dakwah, salafi sururi, dan salafi jihad.

Nuruzzaman menerangkan, yang pertama salafi dakwah. Mereka tidak mengganggu negara tapi kajiannya tidak ahlus sunnah karena intoleransi dan tidak berakhlak. Artinya mereka menganggap umat lain selain mereka pasti salah.

"Kedua, salafi sururi, mereka membunuh orang-orang yang sedang beribadah," kata Nuruzzaman saat seminar nasional di Diradja Hotel, Jakarta, Jumat (30/11).

Menurutnya, salafi susuri ada di Qatar oleh sebab itu Qatar dimusuhi Arab. Di Indonesia juga ada orang-orang salafi susuri yang suka melakukan provokasi dan memimpin demonstrasi, tapi tidak bisa disebutkan namanya.

Kemudian yang ketiga, ada salafi jihad. Menurut orang-orang ini rukun iman kelima adalah jihad dan hukumnya fardlu ain. Di Indonesia ada orang-orang yang menganut salafi jihad, namun tidak bisa disebutkan namanya.

"Dia (orang-orang salafi jihad) mau mendirikan negara Islam, dia (bilang) mau tegakkan Pancasila itu bohong karena ikhwanul Muslimin itu targetnya mendirikan negara Islam," ujarnya.

Nuruzzaman menyampaikan, orang-orang salafi jihad belum bisa mendirikan negara Islam di Indonesia karena mereka belum berkuasa. Namun, dia berkeyakinan orang-orang salafi jihad tidak akan bisa berkuasa di Indonesia karena terus digempur.

Menurutnya, kenapa banyak orang simpati pada khilafah karena elite politik di Indonesia tidak mencontohkan hal yang baik. Contohnya banyak elite politik di Indonesia tertangkap KPK. Oleh sebab itu, ketika ada yang menawarkan sistem baru, orang-orang sepakat dan khilafah dianggap satu-satunya solusi.

"Kalau negara ini negara demokratis harusnya elite politik kita contohkan (hal baik), minimalisir korupsi dan sebagainya," ujarnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA