Wednesday, 7 Syawwal 1442 / 19 May 2021

Wednesday, 7 Syawwal 1442 / 19 May 2021

GAPKI: Serapan CPO Membaik

Jumat 30 Nov 2018 13:13 WIB

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Friska Yolanda

Foto udara perkebunan kelapa sawit di Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan, Kamis (13/9). Kementerian Perdagangan memberlakukan Bea Keluar (BK) untuk produk  crude palm oil (CPO) asal Indonesia US$0 per ton untuk September karena turunnya harga referensi produk CPO penetapan BK periode September 2018 pada level 603,94 dolar AS per metrik ton (MT) melemah 28,23 dolar AS.

Foto udara perkebunan kelapa sawit di Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan, Kamis (13/9). Kementerian Perdagangan memberlakukan Bea Keluar (BK) untuk produk crude palm oil (CPO) asal Indonesia US$0 per ton untuk September karena turunnya harga referensi produk CPO penetapan BK periode September 2018 pada level 603,94 dolar AS per metrik ton (MT) melemah 28,23 dolar AS.

Foto: Nova Wahyudi/Antara
Sampai dengan Oktober 2018, Indonesia sudah mengekspor 4,9 juta ton CPO.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Perluasan mandatori biodiesel 20 persen (B20) mulai memberi hasil positif. Hal ini terlihat dari meningkatnya serapan //Crude Palm Oil// (CPO) di dalam negeri untuk biodiesel. Sebelumnya serapan biodiesel dari Januari-Agustus hanya di kisaran 215 ribu hingga 290 ribu ton per bulan. 

"Sejak September sudah mencapai 400 ribu ton dan pada Oktober ini mencapai 519 ribu ton," ujar Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono melalui keterangan tertulis, Jumat (30/11). 

Pergerakan positif penyerapan CPO untuk biodiesel di dalam negeri membawa dampak pada stok CPO di dalam negeri. Apalagi saat ini implementasi perluasan B20 belum maksimal dan terus dilakukan berbagai perbaikan. Ia berharap, dalam beberapa bulan ke depan serapan biodiesel akan maksimal.

Salah satu perbaikan yang sedang dikerjakan adalah menurunkan jumlah titik serah FAME ke Pertamina dari 112 titik ke 25 titik. Jika serapan sudah maksimal, ia melanjutkan, diperkirakan tahun 2019 industri biodiesel akan menyerap enam juta ton CPO.

Optimisme Indonesia untuk menjalankan B30 pada 2020 juga sangat kuat. Awal 2019, roadtest untuk B30 akan dilaksanakan. Dengan serapan CPO yang semakin tinggi di dalam negeri, pasokan ke pasar global akan dapat berkurang. 

Sejalan dengan peningkatan penggunaan dalam negeri, ekspor juga mengalami peningkatan. Sepanjang Oktober ini, volume ekspor minyak sawit Indonesia (CPO dan turunannya, Olechemical dan Biodiesel) naik lima persen dibandingkan bulan sebelumnya atau dari 3,19 juta ton naik menjadi 3,35 juta ton. Sementara itu, volume ekspor CPO, PKO dan turunannya saja, tidak termasuk oleochemical dan biodiesel) mencapai 3,14 juta ton atau naik lima persen dibandingkan pada September lalu yang hanya 2,99 juta ton. 

Ekspor pada Oktober ini terdiri CPO sekitar 760,82 ribu ton atau sekitar 24 persen dari total volume ekspor. Sisanya sebanyak 2,34 juta ton atau 76 persen merupakan produk turunan atau olahan dari CPO.  

Sampai dengan Oktober 2018, Indonesia sudah mengekspor 4,9 juta ton CPO atau 18 persen dan produk turunan 21,17 juta ton atau 82 persen. Geliat pasar global ini terutama didukung oleh demand dari Cina yang meningkat sangat signifikan. Pada Oktober ini Cina meningkatkan impor minyak sawit dari Indonesia hingga 63 persen atau dari 332,52 ribu ton pada September terkatrol menjadi 541.81 ribu ton. 

Volume impor ini di luar dari demand biodiesel. Khusus untuk biodiesel, Cina mulai mengimpor sejak Mei 2018. Total volume biodiesel yang diimpor Cina dari Indonesia periode Mei-Oktober 2018 telah mencapai 637,34 ribu ton.  

"Angka ini merupakan suatu capaian yang sangat baik sejak Cina mulai mempromosikan penggunaan biodiesel dalam rangka mengurangi emisi gas rumah kaca," ujarnya.

Pilot project B5 telah dilaksanakan di Shanghai dan akan terus dipromosikan secara luas di Cina. Program ini tentunya membuka peluang bagi pasar biodiesel berbasis CPO Indonesia untuk membuka pasar di Cina.

Naiknya impor minyak sawit China didorong oleh pengurangan pasokan kedelai oleh Cina dari Amerika sebagai efek dari perang dagang kedua negara raksasa tersebut. Selain itu pada awal Oktober, Cina juga mulai mengeskalasi pelarangan impor rapeseed meal dari India untuk pakan ternak ruminansia dan unggas. 

Pelarangan ini tentunya membuka peluang Indonesia mengisinya dengan produk bungkil sawit yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak ruminansia dan unggas. 

Kenaikan impor juga dicatatkan oleh Pakistan sebesar 76 persen atau dari 140,16 ribu ton melonjak menjadi 246,97 ribu ton.  "Oktober ini merupakan volume impor tertinggi sejak Oktober 2015," kata dia.  

Melonjaknya permintaan oleh Pakistan karena harga yang murah dan untuk pengisian stok di dalam negeri. Seperti diketahui, beberapa bulan terakhir impor minyak sawit Pakistan mengalami perlambatan akibat dari kondisi ekonomi Pakistan yang sedang kurang baik karena defisit neraca perdagangan yang tinggi. 

AS menyusul Cina dan Pakistan dengan mencatatkan kenaikan impor meskipun secara volume tidak besar tapi secara persentase sangat signifikan yaitu 129 persen atau dari 58,20 ribu ton naik menjadi 133,46 ribu ton.

Di sisi lain, pada Oktober ini India mencatatkan penurunan sebesar 12 persen namun secara volume India tetap menjadi pengimpor minyak sawit tertinggi dari Indonesia. Oktober ini volume impor CPO dan produk turunannya oleh India hanya mampu mencapai 698,17 ribu ton. Pada bulan sebelumnya mencapai 779,44 ribu ton.

Penurunan impor juga diikuti oleh negara Uni Eropa delapan persen dan negara Afrika 40 persen.  Di sisi produksi, sepanjang Oktober 2018 produksi diprediksi mencapai 4,51 juta ton atau naik sekitar dua persen dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 4,41 juta ton. Naiknya produksi yang tidak terlalu signifikan dibarengi dengan ekspor yang meningkat menyebabkan serta penggunaan untuk biodiesel, stok minyak sawit Indonesia menurun menjadi kira-kira 4,41 juta ton. 

Di sisi harga, sepanjang Oktober 2018 harga bergerak di kisaran 512,50 dolar AS – 537,50 dolar AS per metrik ton CIF Rotterdam, dengan harga rata-rata 527,10 dolar AS per metrik ton. Harga CPO global terus tertekan karena harga minyak nabati lain yang sedang jatuh khususnya kedelai dan stok minyak sawit yang masih cukup melimpah di Indonesia dan Malaysia . 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA