Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Kanker Prostat, Lebih Baik Operasi atau tidak?

Jumat 30 Nov 2018 09:30 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Indira Rezkisari

Pria perlu sering berolahraga untuk menghindari penyakit prostat saat usia sudah mulai berumur.

Pria perlu sering berolahraga untuk menghindari penyakit prostat saat usia sudah mulai berumur.

Foto: Edi Yusuf/Republika
Operasi prostat bisa membantu mengontrol pembesaran.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kelenjar prostat akan makin besar seiring bertambahnya usia laki-laki. Karena itu, deteksi dini disarankan untuk membedakan apakah hanya pembesaran prostat ataukah Anda mengalami kanker prostat.

Seringkali masih ada yang bingung apakah jenis kanker ini bisa disembuhkan atau hanya bisa diredakan melalui konsumsi obat. Spesialis Bedah dari RSCM Kencana, dr. Agus Rizal AH Hamid, SpU, PhD mengatakan upaya medis dapat melakukan pengontrolan, salah satunya bisa melalui tindakan operasi.

"Jadi mohon maaf bukan penyembuhan, tapi pengontrolan. Datanya sudah jelas antara kita melakukan operasi dan tidak. Kalau tumor masih kecil, hampir 99 persen dia akan menetap, kalau kita operasi kita berarti sudah mengangkat semuanya, jadi sudah tidak ada lagi sel kanker prostat. Kalau kita diamkan, bisa ke arah lain, karena kanker itu untuk berkembang, menggerogoti, makin gede, makin gede," kata Rizal memaparkan di Jakarta.

Karena itu, Rizal juga menekankan pentingnya deteksi dini. Jika tumor di area prostat sudah cukup besar, maka tindakan operasi pun menjadi lebih rumit.

"Ada usus misalnya di bagian belakang kalau tumornya makin besar, masak ususnya kita angkat, kan nggak mungkin. Kalau dilihat masih stadium lokal, 95 persen pasien sampai 10 tahun masih bisa bertahan (hidup)," lanjutnya.

Rizal menambahkan, jika tumor itu sudah cukup besar, pihak medis boleh jadi menyarankan konsumsi obat. Dengan cara ini, ada kemungkinan kambuh dua sampai tiga tahun mendatang.

Tetapi apakah dengan operasi juga pihak medis menjamin 100 persen bisa bersih, Rizal mengatakan, hanya Tuhan yang menentukan. Berdasarkan pengalaman dan data yang dimiliki RSCM, sampai tahun ini, 90 persen pasien masih bisa terkontrol.

"Dari 20 pasien yang kita operasi, baru dua pasien yang kambuh karena PSA-nya memang cukup tinggi pas kita operasi. Hanya dia tidak bisa ejakulasi karena sudah kita potong," katanya menambahkan.



BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA