Friday, 15 Zulqaidah 1442 / 25 June 2021

Friday, 15 Zulqaidah 1442 / 25 June 2021

Demi Israel, Trump tak Mau Tarik Militer AS dari Timteng

Rabu 28 Nov 2018 14:42 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Pasukan tentara Amerika Serikat

Pasukan tentara Amerika Serikat

Foto: Youtube
Minyak bukan lagi alasan utama militer AS tetap berada di Timteng.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Israel menjadi alasan mengapa Amerika Serikat (AS) tak menarik pasukan militernya dari Timur Tengah. Hal itu diungkapkan Presiden AS Donald Trump dalam wawancara eksklusif dengan the Washington Post pada Selasa (27/11).

Dalam wawancara itu, Trump ditanya tentang kemungkinan penarikan pasukan AS dari Timur Tengah. Dia menjawab harga minyak yang lebih rendah akan menjadi alasan bagi pasukan AS angkat kaki dari kawasan Timur Tengah.

Menurutnya, minyak tak lagi menjadi alasan utama mengapa pasukan AS tetap bertahan di Timur Tengah. Sebab, ia mengklaim saat ini AS memproduksi lebih banyak minyak daripada yang pernah dihasilkan sebelumnya.

"Jadi Anda tahu, tiba-tiba itu sampai pada titik di mana Anda tidak harus tinggal di sana. Satu alasan untuk tetap tinggal adalah Israel," ujar Trump dalam wawancara tersebut, dikutip laman Jerusalem Post.

Itu bukan kali pertama Trump menjadikan Israel sebagai contoh yang baik di Timur Tengah. Saat bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Helsinki, Finlandia, pada Juli lalu, Trump mengatakan bahwa AS telah bekerja dengan Israel selama bertahun-tahun.

Menurutnya, hubungan AS dan Israel sekarang tidak pernah sedekat dan seakrab seperti sebelumnya. "Presiden Putin juga membantu Israel dan kami berdua berbicara dengan (Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu, dan mereka ingin melakukan hal-hal tertentu sehubungan dengan Suriah, yang berkaitan dengan keselamatan Israel," kata Trump.

Menurut Trump, baik AS maupun Rusia telah sama-sama bekerja dengan Israel. Begitupun sebaliknya. "Saya pikir kerja mereka dengan Israel adalah hal yang hebat dan menciptakan keselamatan bagi Israel adalah sesuatu yang Presiden Putin dan saya sangat ingin lihat," ujarnya.

Dalam wawancara tersebut, Trump turut dimintai pendapatnya tentang ketegangan baru-baru ini antara Rusia dan Ukraina. Ia mengatakan masih menunggu laporan lengkap dari tim keamanan nasionalnya tentang insiden yang terjadi di Selat Kerch.

Ia mengungkapkan tak menutup kemungkinan pertemuan antara dirinya dan Putin yang dijadwalkan di sela-sela KTT G-20 di Buenos Aires pekan ini dibatalkan akibat kejadian di Selat Kerch.

"Itu akan sangat menentukan. Mungkin saya tidak akan mengadakan pertemuan (dengan Putin). Saya tidak suka agresi itu, saya sama sekali tidak menginginkan agresi itu," kata Trump.

Pekan lalu, Rusia menembaki dan menawan tiga kapal milik angkatan laut Ukraina di Selat Kerch. Tindakan itu dilakukan karena Moskow menganggap kapal-kapal Ukraina telah melakukan provokasi dan secara ilegal memasuki wilayah perairan Rusia.

Pada kesempatan itu, Trump pun kembali menyatakan dukungannya terhadap Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS). Ia mengatakan Pangeran MBS telah menyangkal keterlibatan dan perannya dalam kasus pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi.

"Dan (laporan) CIA tidak mengatakan dengan tegas bahwa dia (Pangeran MBS) melakukannya. Saya tidak mengatakan bahwa mereka mengatakan dia tidak melakukannya, tapi mereka tidak mengatakannya dengan tegas," kata Trump.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA