Wednesday, 19 Muharram 1444 / 17 August 2022

Alasan Mengapa Orang Tua Harus Berhenti Memukul Anak

Rabu 07 Nov 2018 17:08 WIB

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Ani Nursalikah

Ilustrasi.

Ilustrasi.

Foto: ABC
Anak yang dipukul orang tua mengalami peningkatan gangguan kesehatan mental.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Memukul anak adalah hak prerogatif orang tua. Bagi beberapa ibu dan ayah, memukul adalah hukuman yang tepat dalam keadaan ekstrem.

Namun, penelitian baru mengungkapkan hasil mengkhawatirkan bahwa memukul anak dapat mempengaruhi kesehatan mental anak-anak. Laporan oleh American Academy of Paediatrics (AAP) mengungkapkan anak-anak yang dipukul orang tua mereka cenderung mengembangkan perilaku agresif.

Baca Juga

Anak-anak yang dipukul orang tuanya juga mengalami peningkatan risiko gangguan kesehatan mental. Untuk mencerminkan temuannya, AAP memperbarui sarannya tentang cara mendisiplinkan anak-anak. Orang tua disarankan menghindari pelecehan verbal yang dapat menyebabkan rasa malu atau penghinaan.

“Strategi pendisiplinan yang bersifat menyerang, termasuk semua bentuk hukuman fisik dan berteriak pada atau mempermalukan anak-anak, minimal efektif dalam jangka pendek dan tidak efektif dalam jangka panjang,” katanya.

Memukul anak tidak ilegal di Australia atau sejumlah bagian di Inggris, tetapi ada peningkatan saran di kedua negara untuk melarang memukul anak. Memukul anak ilegal di Skotlandia. Wales kemungkinan mengikuti langkah tersebut.

AAP yang memberikan panduan untuk dokter anak di Amerika Serikat mengklaim memukul memiliki dampak psikologis dan fisik pada anak-anak. Laporan terbaru mengklaim memukul adalah lingkaran setan dari meningkatnya perilaku buruk.

Organisasi tersebut merekomendasikan orang tua menggunakan penguatan positif sebagai sarana utama untuk mengajarkan perilaku yang dapat diterima. "Sebagai contoh, orang tua dapat belajar anak-anak muda sangat membutuhkan perhatian. Memberi tahu seorang anak dengan kalimat 'Ayah/Ibu suka ketika kamu...' adalah cara mudah memperkuat perilaku yang diinginkan," kata AAP.

AAP juga merekomendasikan menerapkan strategi time-out ketika seorang anak melanggar aturan tertentu. Satu menit hukuman time-out untuk setiap usia adalah aturan praktis yang baik.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA