Monday, 24 Rajab 1442 / 08 March 2021

Monday, 24 Rajab 1442 / 08 March 2021

Ini Kesulitan Pembangunan MRT Fase II

Rabu 07 Nov 2018 08:51 WIB

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Bayu Hermawan

Direktur Konstruksi PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta Silvia Halim di Stasiun MRT Hotel Indonesia (HI), Selasa (6/11) menjelaskan mengenai kajian teknis terkait perluasan MRT Jakarta fase dua hingga Ancol.

Direktur Konstruksi PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta Silvia Halim di Stasiun MRT Hotel Indonesia (HI), Selasa (6/11) menjelaskan mengenai kajian teknis terkait perluasan MRT Jakarta fase dua hingga Ancol.

Foto: Republika/Rahayu Subekti
Silvi mengungkapkan, ada kesulitan tersendiri dalam pembangunan MRT fase II.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta Silvia Halim mengatakan, pihaknya menargetkan ground breaking pembangunan fase II MRT akan dilakukan pada Januari mendatang. Silvi mengungkapkan, ada kesulitan tersendiri dalam pembangunan MRT fase II.

Silvia menjelaskan untuk pembangunan MRT fase II keseluruhan bangunan berada di bawah tanah, kecuali depo yang ada di Kampung Bandan jika mengacu pada rencana pertama. Rencana pertama MRT fase II hanya sampai Kampung Bandan namun pemerintah menginginkan diperluas hingga Ancol. Ia mengungkapkan sejumlah kesulitan dalam membangun moda transportasi massal berbasis rel tersebut.

"Kalau yang ke arah utara kendala utamanya kondisi tanahnya lebih susah karena lebih lembek dibandingkan pusat dan selatan," katanya, Selasa (6/11).

Selanjutnya, bangunan tua di sepanjang Gajah Mada dan Hayam Wuruk, Jakarta Kota juga menjadi kesulitan tersendiri. Dia mengatakan di lokasi tersebut banyak bangunan heritage atay warisan budaya yang harus dikonserfasi dan tidak rusak. Kondisi bangunan tua tersebut menurutnya menjadi tantangan yang harus disesuaikan dengan proses pembangunan MRT fase II.

"Nanti metode pembangunanya harus memperhatikan kondisi tanah dan bangunan sekitar, enggak boleh merusak," ujarnya.

Dia mengakui, kesulitan tersebut yang harus menyesuaikan dengan bangunan tua berdampak pada anggaran. Hal itu, kata dia, menyebabkan biaya pembangunan MRT fase II lebih tinggi perkilometernya dibanding fase I (Bundaran HI-Lebak Bulus).

Ditambah lagi, jika pemerintah menginginkan adanya perluasan MRT fase II hingga Ancol, maka menurut Silvia harus melakukan kajian teknis terlebih dahulu. "Kajian teknisnya kita kan dibantu pihak Jepang juga," ujar Silvia.

Silvia mengungkapan sejauh ini belum ada respons resmi dari Japan International Cooperation Agency (JICA) terkait perluasan MRT fase II sampai Ancol. Hanya saja, Silvia merasa Jepang akan melihat rencana perluasan tersebut menjadi tujuan yang positif.

"Karena ini untuk mebantu membangun infrastruktur. Harapan mereka juga kita bisa membangun sendiri gak melulu bantuan dari Jepang," ungkap Silvia.

Sementara itu, saat ini MRT Jakarta fase I pembangunannya sudah mencapai 95 sampai 97 persen. Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan sebelum siap beroperasi, kontraktor akan melakukan tes atau uji coba untuk mengamati pengoperasiannya.

Dia menjelaskan pada tahap awal pengoperasiannya nanti akan beroperasi sepanjang 16 kilometer. "Kita harapkan (beroperasi) Februari atau Maret 2018," kata Budi di Stasiun MRT Bundaran Hotel Indonesia, Selasa (6/11).


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA