Saturday, 9 Jumadil Awwal 1444 / 03 December 2022

Sistem Kunjungan TN Bromo, Tengger, Semeru akan Diperketat

Selasa 06 Nov 2018 19:46 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Andi Nur Aminah

Wisatawan mengambil gambar kawah Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur (ilustrasi)

Wisatawan mengambil gambar kawah Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur (ilustrasi)

Foto: Antara/Zabur Karuru
Kunjungan ke beberapa lokasi TNBTS akan dibagi ke dalam sejumlah jenis tiket.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Sistem kunjungan ke Taman Nasional Bromo, Tengger dan Semeru (TNBTS) akan semakin diperketat tahun depan. Kunjungan ke beberapa lokasi TNBTS akan dibagi ke dalam sejumlah jenis tiket.

"Supaya tidak berantakan, harus dibedakan warna tiketnya. Misalnya, ke Penanjakan pakai warna kuning atau hijau. Nanti warnanya beda-beda di setiap titik. Kalau sudah ke Penanjakan, enggak bisa ke sana lagi nantinya," ujar Kepala Balai Besar (BB) TNBTS, John Kenedie kepada wartawan di Aula BB TNBTS, Kota Malang, Selasa (6/11).

Menurut Kenedie, TNBTS pada dasarnya memiliki kapasitas terbatas dalam menentukan jumlah pengunjung. Batasan-batasan jumlah pengunjung yang bisa ditampung TNBTS juga telah dipastikan hitungannya oleh para ahli.

photo
Sejumlah wisatawan berkuda menuju puncak Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur.
Lokasi semisal Penanjakan hanya mampu menampung 500 pengunjung per harinya setelah dilakukan renovasi pada 2017. "Penanjakan itu tidak bisa dipaksa berat. Dulu lokasi itu hanya bisa menampung 300-an orang per harinya. Lalu kita renovasi di 2017, jadi bisa 500 pengunjung," jelasnya.

Target pendakian di Gunung Semeru hanya sekitar 600 orang per harinya. Angka ini ditentukan karena Semeru berdasarkan penelitian hanya mampu menampung 2.000 orang setiap hari. "Pendaki kan biasanya tiga hari di Semeru, kalau dikali tiga jadi 1.800 orang. Itu belum lagi dengan jumlah petugas kita," tambah dia.

Sementara pengunjung Gunung Bromo, dia melanjutkan, mampu mencapai 2.000 orang di akhir pekan. Jumlah ini memang harus dipecah ke beberapa lokasi agar tidak terfokus di satu titik. Dengan demikian bisa menghindari hal-hal yang tidak diinginkan nantinya.

"Pengunjung memang rata-rata mau naik dulu malam-malam padahal Bukit Cinta itu sama bagusnya. Mereka seperti tidak puas kalau belum ke Penanjakan," kata Kenedie.

photo
Meriahnya gelaran Eksotika Bromo 2018 yang juga bertepatan dengan ritual Yadna Kasada di Lautan Pasir Bromo, Tengger, Probolinggo.
Menurut Kenedie, Bukit Cinta memiliki daya tampung pengunjung sekitar 200 orang per hari. Sementara Bukit Kedaluh atau Kingkong dapat menerima wisatawan sebanyak 300 orang. Kemudian daya dukung Laut Pasir bisa mencapai 2.000 orang, bahkan Bukit Teletubbies sama besar jumlahnya. "Nah nanti kita pecah lagi pengunjungnya ke taman edelweis atau desa wisata edelweis," tambahnya.

 

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA