Friday, 4 Ramadhan 1442 / 16 April 2021

Friday, 4 Ramadhan 1442 / 16 April 2021

Ratusan Suplemen 'Alami' Ternyata Berbahan Obat Eksperimen

Senin 15 Oct 2018 13:54 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Obat, vitamin dan suplemen (ilustrsi).

Obat, vitamin dan suplemen (ilustrsi).

Foto: Republika/Prayogi
FDA di AS tak mencabut sebagian izin suplemen meski ada bahan berbahaya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat telah menemukan ratusan suplemen over-the-counter (OTC) dicampur dengan obat yang tak disetujui. Hal ini diketahui berdasarkan tes yang dilakuakn FDA 

Namun badan tersebut tak mengeluarkan penarikan pada obat-obatan tersebut. Sebagian besar produk yang dijual adalah obat peningkatan seksual laki-laki, obat suplemen massa otot dan suplemen penurun berat badan. 

Para peneliti di Departemen Makanan dan Pertanian California (FD) menemukan bahwa lebih dari 775 konon suplemen 'alami' mengandung versi lebih murah dari bahan-bahan yang diiklankan atau senyawa farmasi yang memerlukan resep. Tapi FDA hanya menarik setengah dari jumlah itu. 

Para ahli menyerang FDA karena membiarkan produk-produk tercemar ini masuk dan tetap berada di pasar, menyebut bukti penelitian tentang 'melalaikan tugas'.  

Pada 2017, pasar suplemen mampu menembus angka 13,4 miliar dolar AS atau Rp 201 triliun dan pasar diprediksi akan terus naik.  Dengan jenis, merek, dan vendor yang tak terhitung jumlahnya di luar sana, industri suplemen membuat FDA kewalahan. 

Karena mereka tidak seharusnya mengandung bahan farmasi aktif, suplemen tak harus disetujui oleh FDA sebelum mereka muncul di eceran. Namun FDA bertanggung jawab untuk menguji produk yang mencurigakan dan mengeluarkan penarikan jika mengandung bahan yang salah label, berpotensi berbahaya atau tidak disetujui.

Studi baru menemukan bahwa agensi sedang menguji produk ini - tapi tidak bertindak atas temuannya. Antara tahun 2007 dan 2016, ahli kimia FDA menemukan bahwa 776 suplemen 'dipalsukan', yang berarti mereka mengandung bahan yang berbeda dari yang diiklankan pada label mereka. 

Tapi agensi hanya mengeluarkan penarikan sukarela atas 360 produk - kurang dari setengah jumlah produk tercemar yang sebenarnya mereka temukan.  Ia menyebut dari 776 suplemen tersebut, 336 dipasarkan untuk peningkatan seksual, 317 untuk penurunan berat badan, dan 92 untuk pembentukan otot. Sejumlah suplemen jatuh ke kategori 'lain'. 

Beberapa di antaranya berisi penurunan peringkat dari bahan-bahan yang diiklankan, tetapi yang lebih memprihatinkan, banyak suplemen yang dipasarkan sebagai 'alami,' berisi versi obat farmasi yang sering kali eksperimental. 

 

Hampir setengah dari obat peningkatan seksual pria mengandung sildenafil - atau beberapa versi jeleknya - bahan aktif dalam Viagra. "Konsumen tidak boleh berpikir bahwa ini adalah cara yang lebih murah untuk mengambil Viagra mereka," kata Dr Pieter Cohen, dokter perawatan primer dan profesor di Harvard Medical School, yang menulis komentar yangmenyertai laporan JAMA kepada Daily Mail Online.

Pieter menambahkan ini versi eksperimental Viagra, dan mereka tidak tahu dosisnya. Dalam beberapa kasus, ini adalah versi farmasi yang telah dihapus dari pasar.  

Sementara sibutramine, obat penurun berat badan yang berpotensi berbahaya ditemukan pada 85 persen dari suplemen slimming dan steroid atau steroid sintetis yang sudah diinjeksi hampir 90 persen dari suplemen pembentukan otot. 

Suplemen ini tidak harus diuji pada manusia. Sebaliknya, produsen bereksperimen dengan lalat buah dan tikus. 

Tapi obat-obatan yang menemukan cara mereka menjadi suplemen tidak dapat dianggap enteng. Dr Cohen mengatakan bahwa setiap obat dikaitkan dengan ribuan rawat inap setiap tahun, dan suplemen itu sendiri menyebabkan 2.000 rawat inap tahunan. 

Kategori suplemen ini secara khusus cenderung memiliki produsen yang menggunakan bahan farmasi karena 'ketiga kategori ini memiliki obat farmasi yang dapat membantu dengan hal-hal ini,' kata Dr. Cohen.

"Undang-undang mengizinkan suplemen untuk dijual seolah-olah mereka bekerja pada manusia, dan itu menciptakan insentif yang merugikan bagi [produsen] untuk menyelundupkan sesuatu di sana sehingga benar-benar akan berfungsi."

Tapi tanpa dosis atau tes yang dikontrol pada manusia, konsumen tidak tahu apakah suplemen yang mereka konsumsi aman. 

"Ada obat-obatan eksperimental aktif dalam suplemen yang disadari FDA tetapi mereka tidak membagikan informasi itu dengan publik," kata Dr Cohen. "Ini sangat mengganggu."  Yang tidak jelas mengapa ini terjadi. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA