Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Ada Senyawa 'Awet Muda' Dalam Apel

Ahad 07 Oct 2018 10:57 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Mengatur makanan, menghilangkan stres, serta rutin berolahraga bisa membuat tubuh segar dan mencegah penuaan.

Mengatur makanan, menghilangkan stres, serta rutin berolahraga bisa membuat tubuh segar dan mencegah penuaan.

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Senyawa fisetin memiliki kemampuan paling efektif dalam memperlambat penuaan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penelitian terbaru berhasil menemukan sebuah senyawa alami yang paling efektif dalam memperlambat proses penuaan. Senyawa yang dikenal dengan nama fisetin ini bisa ditemukan dalam beragam buah, termasuk apel.

Baca Juga:

Baca Juga

Seperti diungkapkan dalam jurnal EBioMedicine, tim peneliti melakukan pengujian terhadap 10 jenis flavonoid terhadap tikus-tikus percobaan tua. Dari kesepuluh senyawa tersebut, tim peneliti menemukan bahwa senyawa bernama fisetin memiliki kemampuan paling efektif dalam memperlambat proses penuaan.

Tim peneliti mengungkapkan bahwa kadar sel-sel senescent pada tikus percobaan tua yang dirawat dengan fisetin terlihat menurun. Sel-sel senescent merupakan sel-sel yang memasuki masa penuaan (senescence) berhenti membelah diri. Sel-sel ini cenderung meningkat pada jaringan-jaringan tubuh yang mengalami proses penuaan.

Penurunan kadar sel-sel senescent pada tikus percobaan tersebut memberi dampak positif. Tim peneliti mengatakan penurunan kadar sel-sel senescent ini menambah harapan hidup sekaligus memperbaiki kesehatan para tikus-tikus percobaan tua.

"Hasil ini menunjukkan bahwa kita dapat memperpanjang periode sehat, yaitu healthspan, bahkan menjelang akhir kehidupan," jelas salah satu peneliti dari Univerisity of Minnesota Prof Paul D Robbins seperti dilansir Medical News Today.

Fisetin bisa ditemukan di banyak buah-buahan selain apel. Beberapa contoh buah yang juga mengandung fisetin adalah strawberry. Fisetin juga bisa ditemukan pada sayur-sayuran seperti bawang dan ketimun.

Robbins mengatakan temuan mengenai fisetin ini masih berupa tahap awal dalam perjalanan penelitian yang panjang. Masih ada beragam pertanyaan mengenai fisetin dan proses penuaan yang perlu dijawab melalui penelitian-penelitain lebih lanjut.

"Masih ada banyak pertanyaan yang perlu dibahas, termasuk dosis (penggunaan fisetin) yang tepat, contohnya," pungkas Robbins.

Seperti diungkapkan Medical News Today, salah satu faktor kunci dalam proses penuaan adalah senescence selular atau proses penuaan pada sel. Ketika sel memasuki tapah senescence, sel tak lagi bisa membelah diri.

Saat hal ini terjadi, sel akan melepas sinyal-sinyal inflamasi. Sinyal inflamasi ini akan mendorong sistem imun untuk 'membersihkan' sel-sel yang rusak tersebut.

Tubuh yang muda dapat dengan mudah membuang sel-sel senescent ini. Akan tetapi, kemampuan membuang sel-sel senescent ini akan menurun pada tubuh yang tua.

Akibatnya, pada tubuh yang tua akan terjadi penumpukan sel-sel yang rusak. Kondisi ini mendorong terjadinya peningkatan infmalasi level rendah yang kemudian diikuti oleh kerusakan jaringan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA