Monday, 5 Syawwal 1442 / 17 May 2021

Monday, 5 Syawwal 1442 / 17 May 2021

Tiga Komunitas Muslim di Laos

Kamis 04 Oct 2018 15:12 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko

Masjid Al-Azhar di Vientiane, Laos.

Masjid Al-Azhar di Vientiane, Laos.

Foto: Blogspot.com
Ketiga komunitas itu bergabung bersama untuk mendirikan Asosiasi Muslim Laos

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Laos merupakan negara dengan mayoritas populasi beragama Buddha. Namun, mereka memiliki tiga komunitas Muslim yang terikat kuat tinggal di Laos. Mereka adalah Muslim Tamil Laos, Pakhtun, dan Muslim Kamboja.

Belum lama ini, ketiga komunitas itu bergabung bersama untuk mendirikan Asosiasi Muslim Laos untuk urusan komunitas Muslim dan juga untuk berhubungan dengan pemerintah.

Presiden Asosiasi Muslim Laos Haji Muhammad Rafiq alias Sofi Sengsone mengatakan, hubungan mereka dengan Pemerintah Laos selalu sangat baik dan tidak menghadapi masalah sama sekali.

Orang-orang Laos, pada umumnya, sangat lembut dan penuh kasih sayang dan kami pikir itu adalah keberuntungan kami untuk tinggal di sini, ujar dia.

Muslim dari Pakistan

Pakhtun dari Provinsi Perbatasan Barat Laut Pakistan adalah kelompok etnis Muslim terbesar di Laos setelah Muslim Kamboja. Dalam beberapa tahun terakhir, komunitas tersebut semakin berkurang dengan migrasi ke Pakistan dan negara-negara Barat dan sekarang jumlahnya kurang dari 30 keluarga.

Sebagian besar sisanya pedagang kain cukup makmur yang berbasis di Vientiane dan beberapa dari mereka memiliki cukup banyak lahan pertanian.

Muslim Tamil

Kelompok etnis Muslim ketiga dan terkecil di Laos adalah penutur bahasa Tamil dari India selatan, yang jumlahnya sekitar 70 orang. Seba- gian besar dari mereka terlibat dalam perdagangan kosmetik, mengimpor barang-barang mereka dari Cina, Vietnam, dan Thailand. Mereka memiliki masjid terbesar di Laos. Masjid Jamia di jantung Vientiane melayani terutama Pakhtun dan Muslim Tamil.

Muslim Kamboja

Tidak kurang dari 100 keluarga Muslim Kamboja tinggal di Laos. Muslim pertama dari Kamboja tiba di Laos sebagai pekerja dan pedagang kecil seki- tar 40 tahun yang lalu.Namun, kebanyakan dari mereka datang setelah pertengahan 1980-an, ketika tanah air mereka diambil alih Khmer Merah.

Rata-rata mereka berprofesi sebagai penjual ramuan obat tradisional. Sebagian besar Muslim Kamboja di wilayah Falundus berkumpul di suatu tempat yang tidak jauh dari kawasan Kota Cina.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA