Monday, 17 Muharram 1444 / 15 August 2022

Relawan FPI Hingga Kenangan Evakuasi Mayat Tsunami Aceh

Rabu 03 Oct 2018 05:01 WIB

Red: Muhammad Subarkah

FPI mengevakuasi jenazah korban gempa dan tsunami Aceh.

FPI mengevakuasi jenazah korban gempa dan tsunami Aceh.

Foto: Hilmi FPI
FPI sibuk mengevakuasi mayat hingga ada yang sakit, lalu meninggal

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Larut pagi ini saya hanya tercenung sendirian. Apalagi setelah mencermati isu yang kini berkembang di media sosial tentang peran relawan Front Pembela Islam (FPI) di hari pertama tragedi bencana di Palu, Sulawesi Tengah. Salah satu pihak ada yang menuding itu berita hoax yang lainnya bilang itu benar adanya.

Ya sembari terus memoloti arus media sosial dan mencoba menelusuri kepastian berita soal FPI, maka tiba-tiba ingatan ini terkenang pada peristiwa bencana tsunami yang  pada 26 Desember 2004 terjadi di Aceh. Saya datang ke sana pada pekan pertama bencana itu setelah melalui perjuangan panjang berebut tiket pesawat yang menuju Banda Aceh melalui Bandara Polonia, Medan.

Dan memang, beberapa saat sebelum mendarat di Banda Aceh saya ingat betul saat itu pemandangannya sungguh mengenaskan. Ibu kota provinsi Nanggroe Aceh Darussalam porak poranda. Di udara tampak jelas puing kota yang berserak dan berubah menjadi rawa. Sebagian wilayah yang terkena tsunami masih tergenang sisa hempasan tsunani air laut. Dari udara terlihat berkilauan, persis seperti pemandangan hutan bakau yang gundul. Suasana ini kontras pada kunjungan saya ke kota ini sebelumnya yang terlihat sebagai wilayah padat namun di kelilingi perbukitan hijau.

Benar saja, ketika sudah mendarat, suasana horor kota Banda Aceh segera menyerobok mata. Puing berserakan. Aneka mobil nyangkut di pohon di pinggir jalan. Mayat bergelimpangan. Jalanan hitam berlumpur. Bau anyir di mana-mana. Kalau malam gelap gulita.

Suasana makin suram karena hujan sering kali turun. Untuk tidur nyenyak suatu kemewahan. Pendopo kantor gubernur di jadikan tempat menginap relawan hingga wartawan yang datang dari seluruh penjuru dunia. Semua tumplek seperti sarden dan ikan asin.

Beberapa pekan kemudian suasana mulai pulih. Satu dua penduduk yang rumahnya tidak terkena tsuami mulai paham secara penuh bahwa wilayahnya terkena bencana yang sangat dahsyat. Banyak orang yang masih trauma dan sedih akibat kehilangan sanak famili dalam sekejap. Tampak sekali mereka coba kuatkan hati. Warung gulai yang sangat terkenal di bilangan jalan Simpang Surabaya Banda Aceh kala itu pun mulai buka kembali. Meski begitu perbankan masih belum buka secara penuh. Telekomunikasi masih belum lancar. Saya kirim berita melalui telepon atau menumpang bila ada fasilitas faksimili di telepon umum di area yang tak terkena tsunami.

Meski begitu ada satu masalah yang sangat serius. Hal itu adalah soal evakuasi jenazah atau mayat yang masih terendam dalam air dan reruntuhan. Selama itu sebagian para korban itu hanya diletakan dan dikumpulkan di pinggir jalan seperti di kawasan yang menuju ke arah pantai Lhok Nga, bahkan hingga jalan protokol di dekat pusat kota.

Saya yang semula takut pada mayat dan terlebih bila berjalan melalui ruas jalan penuh tumpukan mayat itu pada malam hari, berangsur-angsur mulia hilang takutnya. Ini bukan karena jagoan, tapi karena ruas jalan itu satu-satu jalan untuk pulang liputan dari pusat kota di malam hari. Akibatnya, menjadi berani karena terbiasa. Istilah pepatah Melayunya: ala bisa karena biasa.

Beberapa waktu lamanya soal evakuasi jenazah masih belum ada penyelesaian. Ini makin rumit karena banyak mayat yang tertimbun di reruntuhan bangunan yang berair. Alhasil, banyak relawan jeri untuk mengambilnya dengan berbagai alasan dari soal psikologi, tenaga, hingga takut terkena bakteri.

Nah, di saat yang serba tanda tanya itu, muncul relawan dari Jakarta. Mereka datang naik kapal. Rombongannya jumlahnya banyak. Uniknya lagi mereka menyatakan datang untuk membantu bencana Aceh, terutama untuk mengangkat mayat yang masih berada di bawah reruntuhan bangunan. Dan saya mahfum, ini soal serius karena tak mudah dan berisiko tinggi.

Siapa rombongan relawan yang nekad mengangkat mayat itu? Jawabnya, mengejutkan ternyata para anggota Fron Pembela Islam (FPI). Saya lebih terkejut karena nama ormas ini kala itu selalu terdengar negatif misalnya kerap dituding tukang bikin onar, 'grebeg sono grebeg sini'. Di situlah saya melihat dengan setengah tidak percaya. Tapi saya harus menemui mereka karena redaktur saya di Jakarta 'Mas Yoebal Ganesha' (kini menetap di Yogyakarta) menyuruh menemuinya."Kamu lihat itu dan tulis apa yang terjadi,'' perintahnya melalui sambungan telepon.

Akhirnya saya pun berangkat mencari rombongan FPI. Ternyata mereka tinggal di dekat pemakaman umum di kota Banda Aceh. Mereka tidur memakai tenda. Saya pun lihat sang Komandan FPI, seorang lelaki muda yang sekarang terkenal dengan nama Habib Riziek Shihab. Sebelumnya sebagai jurnalis saya pernah bertemu di rumahnya untuk keperluan beberapa wawancara. Saya kala itu di terima Habib Rizek di ruang tengah kediamannya yang ada di tengah kampung Petamburan, Jakarta. Nah, pada saat itu bertemu lagi dengannya di dalam suasana bencana Tsunami Aceh dan uniknya di area pemakaman umum, tempat angota FPI kala itu berkumpul.

"Asalamualaikum. Apa kabar. Ente ada di Aceh juga,'' tanya  Riziek kala itu yang masih saya ingat. Saya mengangguk mengiyakan dan memberi tahu bahwa di Banda Aceh sudah lumayan lama.

''Iya Bib liputan bencana,'' sahut saya. Dan tanpa memberi waktu bertanya malah saya balik bertanya.''Bib saya mau sholat Dhuhur nih. Eh apa boleh saya shalat dengan pakaian begini. Pakai celana yang hanya di sedikit di bawah lutut. Celana lain kotor kena najis semua,'' tanyaku.

Habib Riziek memandang ke arah saya sejenak. Saya memang pakai jaket dan rangsel  dengan celana gunung yang panjangnya sedikit di bawah lutut. Kebetulan di belakangnya memang ada bangunan mushola dan waktunya sudah tengah hari. Dia hanya senyum saja melihat pemandangan saya yang mungkin tampak 'ganjil' itu (saya beli celana itu di kios pakaian olah raga yang berada di pinggir kota Banda Aceh yang tak terkena tsunami)

''Boleh shalat saja. Tak apa-apa kok?'' jawabanya. Saya mengangguk dan sembari berjanji berbincang setelah shalat. Laskar FPI saat itu lalu lalang di dekat kami. Beberapa peralatan evakuasai mayat dan kendaraan untuk mengangkutnya terlihat bersliweran. Habieb Riziek menunggu dengan sabar sampai saya usai shalat. Kami kemudian berbincang sembari duduk di emper halaman mushola.

''Sudahlah ente tulis sendiri kegiatan FPI di Banda Aceh. Apa yang kamu lihat dan rasakan tulis apa adanya saja,'' katanya ringan. Kami pun berbincang cukup lama dengan banyak tema mengenai suka duka selama melakukan evakuasi atas ribuan jenazah para korban tsunami.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA