Friday, 11 Rabiul Awwal 1444 / 07 October 2022

Rahasia Situs Tutari dan Wisata Sejarah Papua

Ahad 30 Sep 2018 19:55 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Situs Megalitik Tutari

Situs Megalitik Tutari

Foto: berandapapua.blogspot.co.id
Situs Megalitik Tutari menjadi identitas prasejarah bagi Papua.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAYAPURA  -- Situs Megalitik Tutari berada di atas bukit Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua. Ia bisa dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun empat dengan waktu tempuh sekitar 20 menit dari Bandara Sentani dan sejam dari Kota Jayapura.

Di bagian utara, Situs Tutari merupakan bukit yang meninggi yang ditumbuhi ilalang, semak belukar dan pohon kayu putih serta tedapat batu-batuan besar. Beberapa di antara batu itu digunakan sebagai media lukisan megalitik.

Sementara di bagian timur dan selatan ke arah kaki bukit, terhampar pemandangan Danau Sentani dengan rumah-rumah warga Kampung Doyo Lama yang tertata mengikuti tepian danau. Ujungnya atau tanjung biasa disebut bagian dari Bukit Teletabis, yang menjadi salah satu destiasi wisata.

Hari Suroto, peneliti dari Balai Arkeologi Papua mengungkapkan dalam legenda yang dipercaya oleh masyarakat Doyo Lama, Tutari adalah nama salah satu suku yang mendiami kawasan Danau Sentani bagian barat.

Suku ini telah punah akibat perang suku di masa lampau. Dalam cerita masyarakat Doyo yang mendiami wilayah Suku Tutari, disebut bahwa sekitar 600 tahun lalu di kawasan bukit di tepi Danau Sentani Barat pernah tinggal Suku Tutari, di perkampungan yang bernama Tutari Yoku Tamaiyoku.

Hingga kini masyarakat Doyo Lama percaya bahwa Bukit Tutari merupakan tempat keramat yang dihuni makhluk-makhluk gaib. Namun, dalam legenda ini tidak menceritakan tentang lukisan pada batu-batu yang ada, karena menurut warga setempat lukisan-lukisan itu telah ada sebelum nenek moyang mereka menempatinya.

Masyarakat Doyo yang tinggal di sekitar kawasan Situs Tutari sekarang ini bukanlah keturunan suku Tutari, nenek moyang mereka semula tinggal di Pulau Yonoqom atau Yonahang (Kwadeware,red) di Danau Sentani.

Pada waktu lampau secara tiba-tiba mereka konon menyerang dan membantai habis masyarakat suku Tutari, setelah itu mereka pindah dan bermukim di Tanjung Warako, kemudian berpindah lagi ke Ayauge di utara dan akhirnya mereka bermukim di tepi Danau Sentani yaitu di kaki Bukit Tutari.

Masyarakat Tutari pada masa prasejarah sudah mengenal kepercayaan animisme, dinamisme, dan mempercayai roh nenek moyang. Hal ini terlihat melalui motif-motif lukisan yang terdapat pada batu-batu di Bukit Tutari dan juga pada keberadaan jajaran batu dan batu tegak atau menhir.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa aktivitas religi masyarakat Tutari mendominasi hampir pada seluruh aspek kehidupan mereka, terutama berhubungan dengan roh nenek moyang maupun dengan kekuatan-kekuatan supranatural.

"Menurut cerita masyarakat Doyo, batu-batu yang ada di Bukit Tutari adalah masyarakat suku Tutari yang kalah perang dan mati kemudian berubah menjadi batu," ungkapnya.

Lebih lanjut, alumnus Universitas Udayana Bali itu memamparkan bahwa di kawasan Bukit Tutari terdapat sejumlah batu tegak, deretan batu serta bongkah-bongkah batu berlukis dengan berbagai macam bentuk motif seperti manusia, hewan, flora dan geometris.

Situs Megalitik Tutari telah dibagi menjadi enam sektor, di antaranya terdapat bagian objek lukisan-lukisan batu, tempat berdirinya batu berjajar dan paling atas menhir--bagian puncaknya--adalah tempat sakral dim ana ada 110 menhir yang masih tetap berdiri.

Untuk objek lukisan pada permukaan batu-batu, nampak terlihat goresan lukisan benda atau makhluk dari konteks Sentani, dalam gurat-guratan putih yakni gelang sebagai alat bayar setempat. Yoniki atau motif hias setempat yang terlihat goresan berbentuk ikan dan kura-kura serta fauna tangkapan endemik danau.

Lalu, batu berjajar atau ada empat batu besar berdiri berdekatan, berbentuk seperti memiliki kepala, leher, dan badan yang dijuluki sebagai batu ondoafi. Keempatnya mewakili empat suku di Doyo Lama yakni suku Ebe, Pangkatana, Wali, dan Yapo. Batu-batu itu tampak seperti manusia yang sedang menatap ke Kampung Doyo Lama.

 Kemudian, kompleks batu tegak atau menhir yang ada di puncak bukit atau sektor enam ini, terlihat bahwa teknik pendiriannya unik, karena menhir-menhir itu tidak ditanam ke tanah,  tapi hanya di permukaan tanah dengan ditopang batu-batu lebih kecil di sekitarnya.

Terdapat dua versi cerita terkait keberadaan menhir ini. Pertama, kompleks menhir ini sebagai tempat musyawarah orang Tutari dan batu tegak yang ada dianggap sebagai simbol tokoh-tokoh adat yang hadir dalam musyawarah.

Versi kedua, dianggap sebagai kompleks Dootomo atau pekuburan pria dengan 110 menhir 'mini' setinggi lutut orang dewasa yang tegap menghadap Danau Sentani.

Mengenai goresan atau lukisan-lukisan batu di Situs Megalitik Tutari selai mengandung nilai estetika, juga menggambarkan kehidupan sosial budaya, ekonomi, dan kepercayaan masyarakat pada waktu itu. Adapun motif lukisan Tutari di antaranya manusia, flora dan fauna, benda budaya dan motif lukisan geometris.

"Untuk motif lukisan manusia, ini tidak utuh ada yang terlihat leher dan ada yang tidak. Motif lukisan flora itu berbentuk kuntum bunga, motif fauna itu berbentuk ikan, kadal, dan kura-kura. Kalau motif budaya berbentuk kapak batu, sedangkan motif lukisan geometris itu berupa garis-garis melingkar, garis zigzag dan lingkaran," katanya.

Keberadaan Situs Megalitik Tutari, lanjut Hari sangat penting untuk dilestarikan karena memiliki nilai penting dan bermanfaat bagi umat manusia dan identitas prasejarah bagi Papua apalagi dilindungi dengan undang-undang cagar budaya.

Hanya saja, mulai terjadi penurunan nilai prasejarahnya, karena lumut-lumut mulai menutupi sejumlah lukisan di batu, lalu ada penggunaan lahan situs untuk tower PLN, penggusuran lahan untuk pembangunan dan savana serta pohon kayu putih di areal situs sering terbakar.

Situs Megalitik Tutari, kata Hari, perlu perawatan dan pelestarian, apalagi saat ini pada permukaan batu banyak dijumpai alga, lichen, lumut, jamur serta terkena dampak kebakaran lahan yang dapat mengakibatkan proses pelapukan motif gambar.

"Meski situs ini terletak di Kabupaten Jayapura, tetapi status kewenangan pengelolaannya berada pada Dinas Kebudayaan Provinsi Papua. Instansi terkait pernah menyampaikan akan berkoordinasi untuk peralihan kewenangan dan pengelolaanya, tapi sejauh mana saya belum tahu," kata Hari Suroto.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA