Tuesday, 16 Rajab 1444 / 07 February 2023

Menghafal Alquran dari Tenda Pengungsian

Ahad 16 Sep 2018 21:11 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Ani Nursalikah

Para santri di Ponpes Al Aziziyah di Dusun Kapek, Desa Gunungsari, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, NTB, tinggal dan belajar di tenda darurat, Senin (10/9).

Para santri di Ponpes Al Aziziyah di Dusun Kapek, Desa Gunungsari, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, NTB, tinggal dan belajar di tenda darurat, Senin (10/9).

Foto: Republika/Muhammad Nursyamsyi
Tenda darurat berfungsi sebagai asrama dan tempat belajar santri.

REPUBLIKA.CO.ID, LOMBOK BARAT -- Tenda darurat dengan menggunakan terpal menjadi pemandangan jamak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pascagempa berturut-turut yang terjadi sejak akhir Juli hingga Agustus. Masyarakat yang rumahnya rusak, bahkan hancur akibat gempa, terpaksa harus tinggal di tenda darurat hasil sumbangan pemerintah dan lembaga kemanusiaan.

Tak hanya di areal permukiman, tenda-tenda darurat juga dapat disaksikan di dalam kompleks instansi pendidikan, seperti Pondok Pesantren Al Aziziyah di Dusun Kapek, Desa Gunungsari, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat (Lobar), Nusa Tenggara Barat (NTB). Berbeda dengan tenda darurat yang berada di pemukiman, tenda darurat yang ada di Ponpes Al Aziziyah memiliki dua fungsi: sebagai asrama sementara dan juga ruang belajar sementara.

Bongkar pasang antara perlengkapan sehari-hari dengan peralatan belajar harus dilakukan para santri. Tumpukan kasur beserta bantal tertata dengan rapi di pojok tenda agar bisa menjalani proses kegiatan belajar mengajar (KBM) pada pagi hingga sore. Begitu malam tiba, para santri bergotong-royong menata kasur untuk tempat mereka beristirahat. Hal ini harus mereka lakukan lantaran bangunan ponpes mengalami kerusakan akibat gempa.

photo
Foto: Republika/Muhammad Nursyamsyi
Republika.co.id bersama jajaran direksi PT Bank Syariah Mandiri (BSM) berkesempatan bersilaturahim dengan Ketua Ponpes Al Aziziyah Tuan Guru Haji (TGH) Fathul Aziz Mustofa di kediamannya yang berada di dalam kompleks Ponpes pada Senin (10/9). TGH Fathul mengaku bersyukur para santri masih bisa melanjutkan KBM. Ponpes ini dikenal sebagai ponpes yang mewajibkan seluruh santri mengikuti program tahfidz atau menghapal Alquran.

"Saya khawatirkan tahfidznya anak-anak tidak maksimal karena biasanya kan ada target hafalan setahun sekian juz," ujarnya saat membuka pembicaraan.

Al Aziziyah yang didirikan pada 3 November 1985 oleh almarhum TGH Mustafa Umar Abdul Aziz memang dikenal sebagai gudangnya para penghafal Alquran. Fathul menyebutkan, jumlah santri yang menimba ilmu di Al Aziziyah saat ini sekitar 4.163 orang, dari TK hingga perguruan tinggi. Ponpes ini berada di lahan seluas enam hektare dari total 10 hektare yang dimiliki ponpes.

photo
Foto: Republika/Muhammad Nursyamsyi
Ketika gempa pada Ahad (5/8) malam, para santri sedang menunaikan ibadah shalat Isya di masjid putra dan masjid putri. Guncangan gempa membuat para santri berhamburan keluar dari masjid menuju tanah lapang. Fathul menyebutkan, saat gempa, ada sejumlah santri yang berada di asrama karena berhalangan shalat atau yang sedang sakit.

"Ada satu santri yang meninggal, putra. Dia tidak shalat karena sakit, dia tertimpa bangunan, sempat dibawa ke UGD namun meninggal," katanya.

Fathul menceritakan, guncangan gempa dan padamnya listrik membuat para santri panik dan menangis, ditambah adanya isu tsunami. Alhasil, banyak wali santri yang datang menjemput anak-anak saat malam dan keesokan harinya. Sementara yang lainnya, tetap tinggal di ponpes dengan tenda darurat.

photo
Foto: Republika/Muhammad Nursyamsyi
"Sarana dan prasarana sepertinya rusak semua, tapi kalau yang masih bisa dipakai, ya dipakai, masjid putri masih bisa karena baru 90 persen, masih bagus. Namun masjid putra tidak bisa dipakai," kata dia.

Kerusakan berat menyasar pada asrama santri dan juga gedung ruang kelas yang berlantai tiga. Pengurus Ponpes masih menunggu hasil kajian dari PU terkait kelaikan bangunan.

Ia mengaku bersyukur proses KBM sudah mulai bisa dilaksanakan pada 3 September meski dilakukan di tenda darurat. Tenda-tenda tersebut berasal dari sumbangan para donatur, termasuk dari BSM. Kata dia, banyak para santri yang sebelumnya pulang ke rumah sudah kembali ke ponpes.

photo
Foto: Republika/Muhammad Nursyamsyi
"Para orang tua yang meminta, mending (anak-anak) di pondok saja karena kalau di rumah juga rumah rusak, lebih baik di pondok bisa belajar," ucapnya.

Fathul menjelaskan, proses KBM dilakukan secara bertahap, dengan proses trauma healing terlebih dahulu. Selain belajar reguler, para santri juga tetap melakukan hafalan Alquran di dalam tenda darurat.

"Kita banyak beri tausiyah, tenangkan mereka supaya mereka kuat, ini bagian dari cobaan Allah SWT. Kita akan berusaha membangun kembali yang rusak. Untuk masjid ada dua pilihan, antara dirobohkan kubahnya atau diganti kubah yang ringan," kata Fathul.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA