Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Kasus Demam Tinggi di India Timbulkan Kepanikan

Jumat 14 Sep 2018 03:30 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Muhammad Hafil

Demam tinggi biasanya menyertai penyakit influenza..

Demam tinggi biasanya menyertai penyakit influenza..

Foto: Torange
Dua dari tiga orang penduduk di desa telah jatuh sakit.

REPUBLIKA.CO.ID,  UTTAR -- Dalam dua pekan terakhir, setidaknya ada 50 orang yang tewas akibat demam tinggi di beberapa wilayah India Utara. Kasus kematian terkait demam yang tinggi ini menimbulkan kepanikan di wilayah India Utara.

Pejabat kesehatan negara bagian Uttar Pradesh Dr Vineet Shukla mengatakan semua rumah sakit di wilayah Rohikhand telah dipenuhi oleh pasien-pasien yang mengalami demam dan menggigil. Satu rumah sakit bahkan telah menerima lebih dari 1.500 pasien sejak 30 Agustus lalu.

"Kami tidak memiliki cukup tempat tidur untuk merawat mereka," papar Shukla seperti dilansir dari ABCNews, Jumat (14/9).

Menteri Kesehatan di Uttar Pradesh, Sidharthnath Singh mengatakan para pasien terbukti positif malaria dan infeksi virus. Namun kondisi ini biasanya tidak bersifat fatal dan hanya menyebabkan batuk serta demam.

Singh menilai curah hujan yang lebih tinggi dari biasanya mungkin memainkan peran dalam terjadinya wabah ini. Singh juga menilai kurangnya koordinasi para petugas kesehatan di wilayah pusat wabah, Bareilly, memperburuk situasi.

"Membuat situasi menjadi tidak terkontrol," tutur Singh.

Kepala Desa Hasanpur di Bareilly, Mahendra Lal, mengatakan ada 300 penduduk di desanya. Lebih dari dua di antara tiga penduduk di desa tersebut telah jatuh sakit. Mereka yang jatuh sakit pergi ke kota terdekat untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit swasta.

Sebagai antisipasi, Kepala Dokter Medik Padmakar Singh mengatakan klinik-klinik temporer dengan perangkat untuk mengatasi malaria tengah telah dipersiapkan di berbagai desa yang mengalami wabah. Kendaraan pengontrol nyamuk juga telah diterjunkan untuk menyemprot insektisida.

Mehtab Alam dari Raza Husain Memorial Charitable Society mengatakan angka kematian sesungguhnya dalam dua minggu terakhir mungkin lebih tinggi dari perkiraan pemerintah. alasannya, perkiraan pemerintah tidak memasukkan kasus kematian di rumah sakit swasta maupun kasus kematian di desa yang warganya tak sempat mendapatkan pertolongan medis.

"Anda bisa menemukan pasien di setiap desa, mereka mendapat perawatan awal dari 'dukun' tapi setelah kondisi memburuk, mereka dilarikan ke rumah sakit pemerintah, pada saat itu sudah terlambat," terang Alam. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA